LODALEMKU TERUSLAH BERKEMBANG DAN MAJU
LODALEMKU TERUSLAH BERKEMBANG DAN MAJU!
Ketupat dicampur jamu, kepada semua umat paroki Lodalem selamat bertemu. Si kembar pergi ke Papua, apa kabar anda semua? Adonan pati ditutupi laken, hati ini terasa kangen. Ketupat dicampuri merica dan madu, selamat merayakan HUT Pancawindu. Semoga anda kalian sehat dan bahagia selalu, amin.
A. Kenangan indah itu
Ketika Rm. Pahala, O.Carm meminta saya untuk menulis apa saja, sebagai bahan untuk merefleksikan dan merayakan HUT 40 tahun Paroki Lodalem, saya langsung menyetujui. Permintaan ini suatu kehormatan pada diri saya sendiri, karena saya pernah selama 4 tahun lebih sekian bulan, boleh mendapat perutusan menjadi Pastor Paroki Hati Tersuci Maria. Terkenal di seantero Keuskupan Malang sebagai paroki Lodalem. Jarang orang mengenal dan menyebut Paroki Hati Tersuci Maria. Ya, Lodalem lebih familier mencirikan suatu daerah alam pradesan.
Saya mempunyai kepanjangan kata Lodalem = Luhur Orangnya dan Lemah Lembut. Ciri khas orang yang hidup di pedesaan dan dekat dengan alam memang seperti itu. Berbeda dengan orang yang hidup di perkotaan penuh kebisingan, kepenatan dan tentu saja persaingan yang ketat, asing dengan alam. Kaki telanjang menginjak tanah saja dapat dihitung dengan jari untuk sehari. Itulah wajah kehidupan kota dan tentu saja pada gilirannya membentuk karakter manusianya.
Saya mengalami masa-masa indah itu di Lodalem. Saya merasakan keluhuran, kelemahlembutan juga kesederhanaan itu dari umat Katolik maupun warga umumnya. Puji Tuhan. Suatu rahmat yang sungguh saya syukuri. Bagaimanapun pengalaman itu bagian sejarah hidup saya dan membentuk diri saya. Di sini saya akui banyak orang yang menjadi guru kebijaksanaan saya baik yang kecil, tua, muda, kaya, miskin dan masih banyak lagi.
Prinsip 3 B (Berdoa, Bekerja dan Belajar), saya alami sungguh berkembang di Lodalem. Saya banyak belajar berdoa dari banyak umat yang bertekun dan semangat. Di Stasi Maria Bunda Karmel Tumpakrejo, biasa si mbok – si mbok itu sambil membawa belanjaan atau dagangannya langsung ikut misa. Saya kagum akan semangat untuk berdoa, berekaristi seperti itu. Tentu pengalaman itu belum pernah saya jumpai di kota. Di kota sibuk sedikit dan payah sedikit sudah menjadi senjata untuk tidak mengikuti Ekaristi. Saya menilai semangat ngabekti, manembah dan berekaristi luar biasa. Teladan inilah yang boleh memancar dirasakan anak-anak muda dan saya sendiri merasakan dan menikmatinya. Matur nuwun nggih?
Tentang bekerja juga sangat hebat. Umat Lodalem para pekerja keras dan ulet. Ladang terkadang tidak seberapa luas tetapi menjadi pusaka dan sumber kehidupan untuk ditekuni. Berangkat pagi pulang siang bahkan sore dari ladang. Ada yang ngarit untuk hewan peliharaan. Ada yang buruh tani. Para pegawai yang paling banyak guru, itu pun tidak terlalu banyak. Saya sangat terinspirasi dan dapat belajar kerja keras lagi ulet dari mereka semua itu. Mereka tidak mudah menuntut-mengeluh. Mereka tabah dan sabar. Sabar terhadap diri sendiri = harapan. Sabar terhadap sesama = kasih. Sabar terhadap Tuhan = iman.
B. Tantangan-tantangan
Di sini saya ingin melihat tantangan-tantangan yang perlu diperhatikan sebagai umat dan pelaku pastoral untuk dapat mengembangkan umat. Saya berangkat mulai dari umat balita sampai dengan umat yang sudah sepuh.
Anak-anak usia dini saya amati cukup banyak entah itu di pusat paroki ataupun di wilayah, stasi-stasi. Pendampingan terhadap mereka di gereja pusat sudah cukup memadai kendati selalu perlu dikembangkan terus, baik metode pendampingan, SDM maupun alat-alat peraga sebagai sarana-prasaranannya. Hanya yang masih memprihatinkan adalah pendampingan anak-anak usia dini di stasi-stasi belum maksimal. Perlu dipikirkan dan diusahakan secara terencana para pendampingnya. Bagus bila para mudika sudah dapat ikut terlibat dalam pelayanan bagi anak-anak usia dini. Pendampingan iman usia dini perlu dilakukan karena mengandalkan pendampingan iman pada keluarga saja tentu tidak cukup.
Anak-anak di atas usia dini (BIUD= Bina Iman Usia Dini), terkadang sudah terpisah, mereka tidak mau lagi bergabung dengan BIUD. Mereka mulai menjadi kelompok kecil tersendiri dalam kelompok Putra/Putri Altar (Misdinar). Saya melihat mereka juga cukup banyak dan sangat potensial sekali, untuk pelayanan dan sasaran aksi panggilan. Seingat saya saat itu, banyak anak yang masuk seminari menengah. Tentu hal itu bukan suatu kebetulan tetapi dapat dilihat sebagai buah pastoral dan pendampingan pada mereka.
Remaka dan mudika tantangannya lebih berat lagi. Apalagi di tengah iming-iming kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Berat bila mereka memang tidak disiapkan secara mental memasuki suatu jaman edan yang terus maju dan mencengkeram. Celakanya lagi, mereka tidak kuat dalam komunitasnya. Apa yang terjadi, pergaulan begitu bebas dan tahu-tahu membawa mereka melangkah terlalu jauh. Kenakalan-kenalakan remaja di luar gereja bisa dengan mudah merembet pada generasi idaman ini. Apa akibatnya? Mereka ada yang harus menikah di usia dini, ditambah menikah di luar gereja lagi. Lebih parah lagi, bila hal itu tidak dikomunikasikan pada pihak gereja. Alhasil akan menjadi hilang dari persekutuan menjadi nyata. Tidak kalah berat lagi mereka yang menjadi TKI ke luar negeri. Mereka yang muda mentalitas dan perilaku berubah drastis. Yang sudah berkeluarga alih-alih menjadi TKI untuk kesejahteraan tetapi malah banyak yang menambah persoalan. Perselingkuhan dan keluarga yang tidak terurus menjadi marak. Mereka memang harus disadarkan membangun keluarga itu tidak identik dengan membangun ekonomi saja. Maka saya senang dengan mendengar usaha pendampingan pengembangan dan pemberdayaan ekonomi umat di daerahnya sendiri.
Umat berusia dewasa tua (sepuh) menjadi pemandangan yang sangat mencolok baik di pusat maupun di stasi-stasi. Artinya gereja dipenuhi mereka semua. Tidak usah dirisaukan. Toh mereka umat Allah yang telah membuktikan kesetiaan dalam imannya. Mereka telah banyak berjasa bagi gereja. Mereka terus akan berjasa, terutama dalam kesetiaan berbakti dan berserah pada Tuhan. Mereka teladan, dalam arti yang sesungguhnya. Kita wajib melaksanakan pendapingan pastoral terus-menerus. Semoga semua umat Paroki Lodalem semakin dewasa dalam iman dan kuat persekutuannya. Ingat, lebih terhormat mantan penjahat daripada mantan Katolik. Selamat dan Berkah Dalem!
Rm A Yudhi Wiyadi OCarm
Ketupat dicampur jamu, kepada semua umat paroki Lodalem selamat bertemu. Si kembar pergi ke Papua, apa kabar anda semua? Adonan pati ditutupi laken, hati ini terasa kangen. Ketupat dicampuri merica dan madu, selamat merayakan HUT Pancawindu. Semoga anda kalian sehat dan bahagia selalu, amin.
A. Kenangan indah itu
Ketika Rm. Pahala, O.Carm meminta saya untuk menulis apa saja, sebagai bahan untuk merefleksikan dan merayakan HUT 40 tahun Paroki Lodalem, saya langsung menyetujui. Permintaan ini suatu kehormatan pada diri saya sendiri, karena saya pernah selama 4 tahun lebih sekian bulan, boleh mendapat perutusan menjadi Pastor Paroki Hati Tersuci Maria. Terkenal di seantero Keuskupan Malang sebagai paroki Lodalem. Jarang orang mengenal dan menyebut Paroki Hati Tersuci Maria. Ya, Lodalem lebih familier mencirikan suatu daerah alam pradesan.
Saya mempunyai kepanjangan kata Lodalem = Luhur Orangnya dan Lemah Lembut. Ciri khas orang yang hidup di pedesaan dan dekat dengan alam memang seperti itu. Berbeda dengan orang yang hidup di perkotaan penuh kebisingan, kepenatan dan tentu saja persaingan yang ketat, asing dengan alam. Kaki telanjang menginjak tanah saja dapat dihitung dengan jari untuk sehari. Itulah wajah kehidupan kota dan tentu saja pada gilirannya membentuk karakter manusianya.
Saya mengalami masa-masa indah itu di Lodalem. Saya merasakan keluhuran, kelemahlembutan juga kesederhanaan itu dari umat Katolik maupun warga umumnya. Puji Tuhan. Suatu rahmat yang sungguh saya syukuri. Bagaimanapun pengalaman itu bagian sejarah hidup saya dan membentuk diri saya. Di sini saya akui banyak orang yang menjadi guru kebijaksanaan saya baik yang kecil, tua, muda, kaya, miskin dan masih banyak lagi.
Prinsip 3 B (Berdoa, Bekerja dan Belajar), saya alami sungguh berkembang di Lodalem. Saya banyak belajar berdoa dari banyak umat yang bertekun dan semangat. Di Stasi Maria Bunda Karmel Tumpakrejo, biasa si mbok – si mbok itu sambil membawa belanjaan atau dagangannya langsung ikut misa. Saya kagum akan semangat untuk berdoa, berekaristi seperti itu. Tentu pengalaman itu belum pernah saya jumpai di kota. Di kota sibuk sedikit dan payah sedikit sudah menjadi senjata untuk tidak mengikuti Ekaristi. Saya menilai semangat ngabekti, manembah dan berekaristi luar biasa. Teladan inilah yang boleh memancar dirasakan anak-anak muda dan saya sendiri merasakan dan menikmatinya. Matur nuwun nggih?
Tentang bekerja juga sangat hebat. Umat Lodalem para pekerja keras dan ulet. Ladang terkadang tidak seberapa luas tetapi menjadi pusaka dan sumber kehidupan untuk ditekuni. Berangkat pagi pulang siang bahkan sore dari ladang. Ada yang ngarit untuk hewan peliharaan. Ada yang buruh tani. Para pegawai yang paling banyak guru, itu pun tidak terlalu banyak. Saya sangat terinspirasi dan dapat belajar kerja keras lagi ulet dari mereka semua itu. Mereka tidak mudah menuntut-mengeluh. Mereka tabah dan sabar. Sabar terhadap diri sendiri = harapan. Sabar terhadap sesama = kasih. Sabar terhadap Tuhan = iman.
B. Tantangan-tantangan
Di sini saya ingin melihat tantangan-tantangan yang perlu diperhatikan sebagai umat dan pelaku pastoral untuk dapat mengembangkan umat. Saya berangkat mulai dari umat balita sampai dengan umat yang sudah sepuh.
Anak-anak usia dini saya amati cukup banyak entah itu di pusat paroki ataupun di wilayah, stasi-stasi. Pendampingan terhadap mereka di gereja pusat sudah cukup memadai kendati selalu perlu dikembangkan terus, baik metode pendampingan, SDM maupun alat-alat peraga sebagai sarana-prasaranannya. Hanya yang masih memprihatinkan adalah pendampingan anak-anak usia dini di stasi-stasi belum maksimal. Perlu dipikirkan dan diusahakan secara terencana para pendampingnya. Bagus bila para mudika sudah dapat ikut terlibat dalam pelayanan bagi anak-anak usia dini. Pendampingan iman usia dini perlu dilakukan karena mengandalkan pendampingan iman pada keluarga saja tentu tidak cukup.
Anak-anak di atas usia dini (BIUD= Bina Iman Usia Dini), terkadang sudah terpisah, mereka tidak mau lagi bergabung dengan BIUD. Mereka mulai menjadi kelompok kecil tersendiri dalam kelompok Putra/Putri Altar (Misdinar). Saya melihat mereka juga cukup banyak dan sangat potensial sekali, untuk pelayanan dan sasaran aksi panggilan. Seingat saya saat itu, banyak anak yang masuk seminari menengah. Tentu hal itu bukan suatu kebetulan tetapi dapat dilihat sebagai buah pastoral dan pendampingan pada mereka.
Remaka dan mudika tantangannya lebih berat lagi. Apalagi di tengah iming-iming kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Berat bila mereka memang tidak disiapkan secara mental memasuki suatu jaman edan yang terus maju dan mencengkeram. Celakanya lagi, mereka tidak kuat dalam komunitasnya. Apa yang terjadi, pergaulan begitu bebas dan tahu-tahu membawa mereka melangkah terlalu jauh. Kenakalan-kenalakan remaja di luar gereja bisa dengan mudah merembet pada generasi idaman ini. Apa akibatnya? Mereka ada yang harus menikah di usia dini, ditambah menikah di luar gereja lagi. Lebih parah lagi, bila hal itu tidak dikomunikasikan pada pihak gereja. Alhasil akan menjadi hilang dari persekutuan menjadi nyata. Tidak kalah berat lagi mereka yang menjadi TKI ke luar negeri. Mereka yang muda mentalitas dan perilaku berubah drastis. Yang sudah berkeluarga alih-alih menjadi TKI untuk kesejahteraan tetapi malah banyak yang menambah persoalan. Perselingkuhan dan keluarga yang tidak terurus menjadi marak. Mereka memang harus disadarkan membangun keluarga itu tidak identik dengan membangun ekonomi saja. Maka saya senang dengan mendengar usaha pendampingan pengembangan dan pemberdayaan ekonomi umat di daerahnya sendiri.
Umat berusia dewasa tua (sepuh) menjadi pemandangan yang sangat mencolok baik di pusat maupun di stasi-stasi. Artinya gereja dipenuhi mereka semua. Tidak usah dirisaukan. Toh mereka umat Allah yang telah membuktikan kesetiaan dalam imannya. Mereka telah banyak berjasa bagi gereja. Mereka terus akan berjasa, terutama dalam kesetiaan berbakti dan berserah pada Tuhan. Mereka teladan, dalam arti yang sesungguhnya. Kita wajib melaksanakan pendapingan pastoral terus-menerus. Semoga semua umat Paroki Lodalem semakin dewasa dalam iman dan kuat persekutuannya. Ingat, lebih terhormat mantan penjahat daripada mantan Katolik. Selamat dan Berkah Dalem!
Rm A Yudhi Wiyadi OCarm
Posted on 1:03 AM
SISI ‘DALEM’ DARI PAROKI LODALEM
SISI ‘DALEM’ DARI PAROKI LODALEM
Oleh Adrianus Pristiono, O.Carm
Saya masih ingat yang dikatakan ketua Stasi Pangganglele, bapak Suwadi, saat akan mengarak saya ke Gereja Paroki dengan mobil pick-up buntut-nya, dalam rangka akan merayakan misa syukur atas tahbisan imamat saya. Waktu itu saya sedang berganti jubah di kamar depan. Bapak Suwadi dan istrinya berada di ruang tamu bersama paman-paman saya. Saya mendengar bapak Suwadi mengatakan demikian, “Rumah ini, tak berbeda dari rumah-rumah lain. Tetapi, di dalamnya ternyata penuh berkat, karena telah melahirkan seorang imam.” Kini, kata-kata beliau itu menjadi sedemikian bermakna, waktu saya diminta oleh Romo Pahala untuk menuliskan sebuah artikel HUT Paroki Lodalem, pada saat menjelang tahun ke-17 usia tahbisan saya.
Saat tinggal di Pangganglele, aktivitas saya di Paroki Lodalem cukup banyak. Sebagai mudika, anggota Legio Maria, putra altar, pembawa doa-doa di lingkungan, dan membantu kakek untuk menarik uang kematian (pangruktiloyo). Masa Rm. Yohanes Baptista Kelik Mursodo (alm) menjadi pastor Paroki Lodalem, memang merupakan masa revitalitasasi semangat Rm.Lohuis (alm). Gereja menjadi tempat yang semarak untuk menghidupi aneka kegiatan rohani. Gairah umat Sidodadi yang rela berjalan kaki untuk mengikuti Misa Suci ke gereja paroki dapat dijadikan gambaran untuk melihat situasi hidup menggereja pada waktu itu, sekaligus cermin untuk mawas diri pada saat ini. Kendati mereka kekurangan air untuk mandi, tetapi ada motivasi yang mencuat dari kedalaman hati untuk menyemarakkan perayaan Liturgi. Perlu dicatat, dan saya yakin banyak umat masih ingat, seorang bocah kecil yang mampu menjadi solis pada saat perayaan-perayaan besar gerejani, dengan suaranya yang merdu. Dia memang pandai bernyanyi.
Misa dan pendalaman iman di stasi-stasi dan kring sangat hidup, karena Rm. Kelik rajin mengunjungi umat di situ. Kelihatannya hanya soal ‘kunjungan’. Namun, kehadiran imam sungguh membawa antusiasme yang tak terukur. Yang harus kita ingat, kunjungan merupakan tradisi injili (Luk 1, 39–45), sebagaimana diteladankan oleh Bunda Maria kepada Elisabeth. Kehadiran seorang imam in persona Christi (dalam pribadi Kristus) sangat berbuah bagi pembangkitan kembali semangat menggereja. Tentu, dalam zaman yang sangat sibuk dengan banyak perkara ini (bdk.10,41), kehadiran imam mesti ditata dalam jadwal dan agenda yang rapi. Semacam rutinitas yang membentuk kebiasaan. Pada saatnya, kebiasaan akan membentuk ‘kebiasaan tetap’ atau habitus. Jika sudah menjadi habitus, maka segala yang baik, semangat yang besar, kehendak yang kuat, dan antusiasme yang tinggi akan mengalir dari dalam dan menjadi suatu karakter umat. Dalam tataran ini, umat tak perlu lagi digerakkan, tetapi gerakan itu muncul sendiri dari dalam. Kalau sudah demikian, yang perlu ditakar hanya tenaga imamnya. Itulah, gambaran paroki yang dewasa, suatu komunitas umat Allah yang sungguh-sungguh hidup.
Kelompok-kelompok kategorial, khususnya Legio Maria memiliki banyak anggota di stasi Sidodadi dan Pangganglele. Terus terang, saya belajar kedisiplinan dari Legio Maria. Wadah seperti Legio Maria dibutuhkan sebagai lahan untuk menanam benih-benih iman kristiani dalam aneka kegiatan. Umat, khususnya muda-mudi juga bisa bersemangat hidup justru dengan aneka kegiatan bervariasi yang dicanangkan paroki. Saya masih ingat, saat Bapak Mesikah menjadi ketua mudika, selain konsolidasi ke dalam (misalnya, dalam kegiatan camping rohani di gunung Kawi), juga ekspansi ke luar. Di Pangganglele, pada waktu perayaan 17 Agustus, mudika menjadi motor kegiatan bersama di desa dalam aneka kegiatan. Tema yang diambil saat itu masih saya ingat: “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Pada waktu itu, acara peringatan hari proklamasi tersebut juga dimeriahkan dengan tontonan wayang kulit semalam suntuk, yang dalangnya juga dari kalangan mudika, yaitu Ki Antonius Siswadi (alm). Mudika menjadi motor kegiatan desa semacam itu tak dapat dipisahkan dari pengaruh orang sekaliber bapak HYP.Eko Suparto atau lebih dikenal dengan bapak Punggono (alm) yang menjadi tokoh yang membanggakan bagi masyarakat sekitarnya, baik dari segi politik maupun keagamaan. Bapak Punggono-lah yang memprakarsai doa bersama di Balai Desa pada setiap kesempatan perayaan 17 Agustus.
Pastoral sekolah (SMPK Arjowilangun) sangat hidup. Bapak Misdianto yang didukung penuh oleh Romo Paroki menghidupkan koor sekolah, misa sekolah, lomba-lomba menjelang Natal, dan aneka keterlibatan murid-murid SMPK dalam Gereja Paroki, bahkan juga untuk ramai-ramai membersihkan gereja menjelang Natal. Romo Paroki rela menyisihkan waktu untuk menjadi guru agama Katolik dan bahasa Inggris di sekolah. Kekompakan para guru SMPK pun perlu mendapat apresiasi, karena berhasil menaburkan benih-benih ajaran Katolik di sekolah. Saat itu, SMPK menjadi sekolah favorit di wilayah kecamatan Kalipare.
Pertanyaannya: Apa yang hidup di balik semuanya itu? Dalam refleksi yang panjang, saya mencoba menemukan jawabannya. Dan, jawaban yang saya temukan adalah spirit yang disuntikkan oleh misionaris Belanda, khususnya Romo Lohuis. Spirit tersebut berupa totalitas pemberian diri Romo Lohuis untuk umat kesayangan yang dipercayakan kepadanya. Maka, sesudah wafat pun, tubuh-fana Romo Lohuis tetap ‘digandholi’ umat Paroki Lodalem untuk dimakamkan di samping gedung gereja Paroki Lodalem. Bagi umat Paroki Lodalem, Roh Romo Lohuis tetap menjadi gembala mereka. Inilah sisi ‘dalem’ kehidupan umat Paroki Lodalem. Setiap romo yang bertugas di Paroki Lodalem hendaknya menggunakan spirit tersebut untuk membangkitkan semangat hidup menggereja umat. Soal bentuk pastoralnya, setiap romo memiliki keunikan yang bervariasi.
Pada dasarnya, kehidupan religius umat Paroki Lodalem bagus. Namun, dengan mencermati kemajuan zaman yang menjangkau tempat-tempat tersembunyi di pedesaan, maka kegiatan pastoral Gereja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: Pertama, pengaruh kebutuhan ekonomi yang membuat banyak orang lari ke negeri tetangga sebagai TKI membawa dampak yang sangat besar. Pola pikir dan gaya hidup kebanyakan umat sudah berubah. Kehidupan menggereja tidak lagi dipandang sebagai suatu cara untuk mengisi sisi ‘dalem’ (baca: kehidupan batin) saja, tetapi juga dilihat dalam tataran untung rugi secara ekonomi. Jika menguntungkan, umat akan berduyun-duyun mengikuti kegiatan Gereja, tetapi jika tidak maka kegiatan Gereja dianggap hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Kegiatan Gereja hanya dipandang sebagai ‘barang kuno’ yang mesti segera ditinggalkan.
Kedua, kondisi sebagai minoritas di tengah mayoritas penganut agama lain. Demikian gencar promosi agama, dengan didukung oleh dana dari luar negeri yang tak terhitung, dan dikendalikan oleh orang-orang militan yang terlatih, maka kehidupan iman umat berada dalam tantangan yang tidak ringan. Tak perlu menganggap satu kelompok pun sebagai musuh, tetapi hendaknya digunakan prinsip ini: Di dunia ini hanya ada satu musuh; dan musuh itu bernama diri sendiri. Maka, keberadaan umat sebagai minoritas di tengah-tengah mayoritas hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk survive (bertahan hidup) di dalam ganasnya gelombang pengaruh yang sangat besar. Kenyataan ini sekaligus menjadi sebuah ‘seleksi alami’ tingkat ketangguhan iman masing-masing umat di tengah aneka tantangan.
Ketiga, kemajuan alat komunikasi yang sudah menjangkau ke pelosok-pelosok desa. Alat-alat komunikasi, baik hand-phone, face book, twitter, maupun aneka fasilitas internet bukanlah malapetaka yang harus dihindari. Umat diajak untuk melihat sisi ‘dalem’ yang sangat positif, yakni sebagai sarana untuk membuka jaringan antar sesama umat beriman, fasilitas untuk mewartakan Injil, dan kesempatan merangkul sebanyak mungkin teman menjadi satu kawanan dan satu gembala. Alat-alat komunikasi tersebut sungguh menjadi berkat bagi Gereja, bukan sebaliknya.
Akhirnya, dengan kesungguhan hati, saya ucapkan PROFISIAT bagi seluruh umat Paroki Lodalem, yang merayakan HUT ke-40. Iman selalu merupakan harta yang sangat berharga. Iman menjadi pegangan dan pelita setiap sisi kehidupan kita. Mari kita pelihara, sirami, dan pupuk, agar tumbuh subur dan berbuah masak bagi kehidupan sehari-hari, dimana pun, kapan pun, dalam situasi-kondisi apa pun, dan pada zaman mana pun.
Malang, 28 Desember 2010,
pada Pesta Kanak-kanak Suci, Martir.
Oleh Adrianus Pristiono, O.Carm
Saya masih ingat yang dikatakan ketua Stasi Pangganglele, bapak Suwadi, saat akan mengarak saya ke Gereja Paroki dengan mobil pick-up buntut-nya, dalam rangka akan merayakan misa syukur atas tahbisan imamat saya. Waktu itu saya sedang berganti jubah di kamar depan. Bapak Suwadi dan istrinya berada di ruang tamu bersama paman-paman saya. Saya mendengar bapak Suwadi mengatakan demikian, “Rumah ini, tak berbeda dari rumah-rumah lain. Tetapi, di dalamnya ternyata penuh berkat, karena telah melahirkan seorang imam.” Kini, kata-kata beliau itu menjadi sedemikian bermakna, waktu saya diminta oleh Romo Pahala untuk menuliskan sebuah artikel HUT Paroki Lodalem, pada saat menjelang tahun ke-17 usia tahbisan saya.
Saat tinggal di Pangganglele, aktivitas saya di Paroki Lodalem cukup banyak. Sebagai mudika, anggota Legio Maria, putra altar, pembawa doa-doa di lingkungan, dan membantu kakek untuk menarik uang kematian (pangruktiloyo). Masa Rm. Yohanes Baptista Kelik Mursodo (alm) menjadi pastor Paroki Lodalem, memang merupakan masa revitalitasasi semangat Rm.Lohuis (alm). Gereja menjadi tempat yang semarak untuk menghidupi aneka kegiatan rohani. Gairah umat Sidodadi yang rela berjalan kaki untuk mengikuti Misa Suci ke gereja paroki dapat dijadikan gambaran untuk melihat situasi hidup menggereja pada waktu itu, sekaligus cermin untuk mawas diri pada saat ini. Kendati mereka kekurangan air untuk mandi, tetapi ada motivasi yang mencuat dari kedalaman hati untuk menyemarakkan perayaan Liturgi. Perlu dicatat, dan saya yakin banyak umat masih ingat, seorang bocah kecil yang mampu menjadi solis pada saat perayaan-perayaan besar gerejani, dengan suaranya yang merdu. Dia memang pandai bernyanyi.
Misa dan pendalaman iman di stasi-stasi dan kring sangat hidup, karena Rm. Kelik rajin mengunjungi umat di situ. Kelihatannya hanya soal ‘kunjungan’. Namun, kehadiran imam sungguh membawa antusiasme yang tak terukur. Yang harus kita ingat, kunjungan merupakan tradisi injili (Luk 1, 39–45), sebagaimana diteladankan oleh Bunda Maria kepada Elisabeth. Kehadiran seorang imam in persona Christi (dalam pribadi Kristus) sangat berbuah bagi pembangkitan kembali semangat menggereja. Tentu, dalam zaman yang sangat sibuk dengan banyak perkara ini (bdk.10,41), kehadiran imam mesti ditata dalam jadwal dan agenda yang rapi. Semacam rutinitas yang membentuk kebiasaan. Pada saatnya, kebiasaan akan membentuk ‘kebiasaan tetap’ atau habitus. Jika sudah menjadi habitus, maka segala yang baik, semangat yang besar, kehendak yang kuat, dan antusiasme yang tinggi akan mengalir dari dalam dan menjadi suatu karakter umat. Dalam tataran ini, umat tak perlu lagi digerakkan, tetapi gerakan itu muncul sendiri dari dalam. Kalau sudah demikian, yang perlu ditakar hanya tenaga imamnya. Itulah, gambaran paroki yang dewasa, suatu komunitas umat Allah yang sungguh-sungguh hidup.
Kelompok-kelompok kategorial, khususnya Legio Maria memiliki banyak anggota di stasi Sidodadi dan Pangganglele. Terus terang, saya belajar kedisiplinan dari Legio Maria. Wadah seperti Legio Maria dibutuhkan sebagai lahan untuk menanam benih-benih iman kristiani dalam aneka kegiatan. Umat, khususnya muda-mudi juga bisa bersemangat hidup justru dengan aneka kegiatan bervariasi yang dicanangkan paroki. Saya masih ingat, saat Bapak Mesikah menjadi ketua mudika, selain konsolidasi ke dalam (misalnya, dalam kegiatan camping rohani di gunung Kawi), juga ekspansi ke luar. Di Pangganglele, pada waktu perayaan 17 Agustus, mudika menjadi motor kegiatan bersama di desa dalam aneka kegiatan. Tema yang diambil saat itu masih saya ingat: “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Pada waktu itu, acara peringatan hari proklamasi tersebut juga dimeriahkan dengan tontonan wayang kulit semalam suntuk, yang dalangnya juga dari kalangan mudika, yaitu Ki Antonius Siswadi (alm). Mudika menjadi motor kegiatan desa semacam itu tak dapat dipisahkan dari pengaruh orang sekaliber bapak HYP.Eko Suparto atau lebih dikenal dengan bapak Punggono (alm) yang menjadi tokoh yang membanggakan bagi masyarakat sekitarnya, baik dari segi politik maupun keagamaan. Bapak Punggono-lah yang memprakarsai doa bersama di Balai Desa pada setiap kesempatan perayaan 17 Agustus.
Pastoral sekolah (SMPK Arjowilangun) sangat hidup. Bapak Misdianto yang didukung penuh oleh Romo Paroki menghidupkan koor sekolah, misa sekolah, lomba-lomba menjelang Natal, dan aneka keterlibatan murid-murid SMPK dalam Gereja Paroki, bahkan juga untuk ramai-ramai membersihkan gereja menjelang Natal. Romo Paroki rela menyisihkan waktu untuk menjadi guru agama Katolik dan bahasa Inggris di sekolah. Kekompakan para guru SMPK pun perlu mendapat apresiasi, karena berhasil menaburkan benih-benih ajaran Katolik di sekolah. Saat itu, SMPK menjadi sekolah favorit di wilayah kecamatan Kalipare.
Pertanyaannya: Apa yang hidup di balik semuanya itu? Dalam refleksi yang panjang, saya mencoba menemukan jawabannya. Dan, jawaban yang saya temukan adalah spirit yang disuntikkan oleh misionaris Belanda, khususnya Romo Lohuis. Spirit tersebut berupa totalitas pemberian diri Romo Lohuis untuk umat kesayangan yang dipercayakan kepadanya. Maka, sesudah wafat pun, tubuh-fana Romo Lohuis tetap ‘digandholi’ umat Paroki Lodalem untuk dimakamkan di samping gedung gereja Paroki Lodalem. Bagi umat Paroki Lodalem, Roh Romo Lohuis tetap menjadi gembala mereka. Inilah sisi ‘dalem’ kehidupan umat Paroki Lodalem. Setiap romo yang bertugas di Paroki Lodalem hendaknya menggunakan spirit tersebut untuk membangkitkan semangat hidup menggereja umat. Soal bentuk pastoralnya, setiap romo memiliki keunikan yang bervariasi.
Pada dasarnya, kehidupan religius umat Paroki Lodalem bagus. Namun, dengan mencermati kemajuan zaman yang menjangkau tempat-tempat tersembunyi di pedesaan, maka kegiatan pastoral Gereja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: Pertama, pengaruh kebutuhan ekonomi yang membuat banyak orang lari ke negeri tetangga sebagai TKI membawa dampak yang sangat besar. Pola pikir dan gaya hidup kebanyakan umat sudah berubah. Kehidupan menggereja tidak lagi dipandang sebagai suatu cara untuk mengisi sisi ‘dalem’ (baca: kehidupan batin) saja, tetapi juga dilihat dalam tataran untung rugi secara ekonomi. Jika menguntungkan, umat akan berduyun-duyun mengikuti kegiatan Gereja, tetapi jika tidak maka kegiatan Gereja dianggap hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Kegiatan Gereja hanya dipandang sebagai ‘barang kuno’ yang mesti segera ditinggalkan.
Kedua, kondisi sebagai minoritas di tengah mayoritas penganut agama lain. Demikian gencar promosi agama, dengan didukung oleh dana dari luar negeri yang tak terhitung, dan dikendalikan oleh orang-orang militan yang terlatih, maka kehidupan iman umat berada dalam tantangan yang tidak ringan. Tak perlu menganggap satu kelompok pun sebagai musuh, tetapi hendaknya digunakan prinsip ini: Di dunia ini hanya ada satu musuh; dan musuh itu bernama diri sendiri. Maka, keberadaan umat sebagai minoritas di tengah-tengah mayoritas hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk survive (bertahan hidup) di dalam ganasnya gelombang pengaruh yang sangat besar. Kenyataan ini sekaligus menjadi sebuah ‘seleksi alami’ tingkat ketangguhan iman masing-masing umat di tengah aneka tantangan.
Ketiga, kemajuan alat komunikasi yang sudah menjangkau ke pelosok-pelosok desa. Alat-alat komunikasi, baik hand-phone, face book, twitter, maupun aneka fasilitas internet bukanlah malapetaka yang harus dihindari. Umat diajak untuk melihat sisi ‘dalem’ yang sangat positif, yakni sebagai sarana untuk membuka jaringan antar sesama umat beriman, fasilitas untuk mewartakan Injil, dan kesempatan merangkul sebanyak mungkin teman menjadi satu kawanan dan satu gembala. Alat-alat komunikasi tersebut sungguh menjadi berkat bagi Gereja, bukan sebaliknya.
Akhirnya, dengan kesungguhan hati, saya ucapkan PROFISIAT bagi seluruh umat Paroki Lodalem, yang merayakan HUT ke-40. Iman selalu merupakan harta yang sangat berharga. Iman menjadi pegangan dan pelita setiap sisi kehidupan kita. Mari kita pelihara, sirami, dan pupuk, agar tumbuh subur dan berbuah masak bagi kehidupan sehari-hari, dimana pun, kapan pun, dalam situasi-kondisi apa pun, dan pada zaman mana pun.
Malang, 28 Desember 2010,
pada Pesta Kanak-kanak Suci, Martir.
Posted on 12:54 AM
Kisah Lodalem dan Lokasi Gereja
Sepenggal Kisah tentang Lodalem dan Lokasi Gereja
(Bpk. Misidianto)
Anggapan warga masyarakat Arjowilangun, khususnya para penatua yang ada pada saat itu (seperti Bpk. Tun Tawar dan Bpk. Kamat) mengatakan bahwa tanah lokasi berdirinya Gereja termasuk tanah keramat atau angker. Dengan pandangan yang demikian, tidak ada masyarakat yang berani mendirikan rumahnya di tempat tersebut. Mereka yakin pada saat itu bahwa lokasi Gereja ini adalah tempat pusat kerajaan lelembut atau roh halus, ada jalan raya ke arah Brongkos-Kesamben-Blitar. Dan di lokasi ini terdapat sumber air tanah yang cukup besar dan ditumbuhi pohon rindang yang cukup besar. Semua itu melengkapi anggpan tanah keramat tersebut.
Di sisi lain, Lodalem disebut pasar dukun, yaitu tempat melunasi nazar warga dan hewan yang sakit. Dapat dilihat bahwa setiap hari jumat pahing pasar lodalem ramai dengan para pedagang serta penduduk yang berdatangan untuk melunasi nazarnya tersebut. Lembu-lembu yang sakit yang telah menjadi sembuh dibawa ke pasar Lodalem dengan ditandai membeli bunga dan mengalungkan kerupuk pada leher sapi tersebut. Hal ini dilakukan sebagai tanda pelunasan nazar, setelah itu, barulah sapinya dibawa pulang kembali
Menurut sejarahnya, yang menjadi pamong dusun Lodalem sekaligus menjadi orangtua adalah Eyang Bolo dan Eyang Reso yang menjadi ahli penyembuh hewan yang sakit. Pada saat peperangan antara Adipati Blitar melawan Adipati Sengguruh banyak pasukan yang terluka dan dirawat oleh Eyang Reso dan Bolo di Lodalem (rumah yang ditempati kaum terhormat). Pada saat perang kles I dan II sekitar tahun 1948 Lodalem menjadi tempat pengungsian. Tempat latihan baris-berbaris pasukan terletak di sebelah utara Lodalem yang sekarang disebut dusun Barisan. Karena hal inilah maka Lodalem terkenal sebagai pasar dukun. Sampai sekarang, dusun Lodalem menjadi bagian dari dusun Arjowilangun yang terdiri dari 5 pedusunan yaitu Duren, Pangganglele, Lotekol, Barisan dan Lodalem sendiri. Dahulu, yang menjadi pemimpin desa adalah Ki Demang Mertowijoyo yang petilasannya masih menjadi saksi sejarah sampai saat ini. Seperti Tanah Ngampel di Lodalem, Punden di Barisan, Sanggar dan Paron di Pangganglele serta Sumbersuko di Lotekol sedangkan di Duren disebut tanah Ngandong-Gurit.
Almarhum Rm. G.J.A. Lohuis, O. Carm mencari tempat untuk mendirikan gedung gereja. Sebenarnya beliau ditawari tanah sebelah Timur pasar Lodalem seluas 1 hektar dan strategis, tetapi beliau mencari tanah di sebelah Selatan pasar Lodalem dan mendapatkan tanah yang disebut masyarakat angker tersebut. Di sinilah didirikan gereja yang berbentuk salib dan pastoran tempat romo berdiam untuk menggembalakan umat. Oleh karena para imam sebagai wakil Kristus diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat, maka masyarakat berpendapat bahwa hanya para romolah (priyayi agung) yang mampu mendiami tanah tersebut. Jika kita maknai, dapat dikatakan bahwa Lodalem menjadi pasar dukun untuk manusia dan hewan yang sakit, mencari dukun sejati yaitu Kristus sendiri yang menyembuhkan sakit rohani (cacat jiwa karena dosa) serta sakit jasmani kita. Lewat sakramen-sakramen gereja, cacat dosa manusia disembuhkan. Karya penyembuhan jasmani dan rohani ini didukung dengan hadirnya Balai Pengobatan Panti Rahayu
Kita pantas bersyukur kepada Bapa yang Mahakasih karena Lodalem menjadi pusat penggembalaan umat dan menjadi paroki Maria Annunciata sejak 21 juli 1971 sampai sekarang dan Romo G.J.A. Lohuis O. Carm tetap menyertai umatnya sampai kebangkitan badan pada akhir zaman. Secara jasmani dan rohani ini bisa dirasakan umat dengan kehadiran makam beliau di samping gereja paroki.
Semoga paguyuban umat beriman paroki Maria Annunciata Lodalem terus berkembang menjadi umat beriman yang militan, mandiri, dan berdaya guna. Amin
SEPENGGAL KISAH ROMO G.J.A. LOHUIS O. CARM
Beliau adalah sosok imam karmelit misionaris yang sangat rajin membina dan melayani umat serta rajin berdoa khusuk sehingga semua tamu diharap sabar menunggu selesainya beliau berdoa. Sikap kebapaan, persaudaraan, serta kepemimpinannya tampak nyata dalam penggembalaan umat maupun pelayanan masyarakat.
A. Bidang Penggembalaan Umat
Secara rohani umat dilayani dengan pelajaran agama, rekoleksi dan ekaristi kudus yang terjadwal secara teratur. Untuk memudahkan pelayanan tersebut umat dibagi dalam beberapa kelompok mulai dari Kaliombo Timur, Kaliombo Barat (Umbulsari), Kalitelo, Tumpakrejo, Sumberpucung, Pangganglele, Barisan Utara dan Selatan, Sidodadi, Kedungwaru dan Lotekol. Para guru katolik dan katekis melayani umat lewat Legio Maria. Mereka bertugas mengunjugi umat dan mengajar agama para calon baptis. Hasilnya tampak dalam pembaptisan massal sampai ratusan orang, seperti di Kedungwaru dan Tumpakrejo. Kita bersyukur karena Allah memanggil calon-calon baptis saat itu. Jumlah umat yang cukup besar didirikan kapel, seperti di Tumpakrejo yang pembangunannya bersamaan dengan Gereja Salib di Lodalem yang kemudian menjadi pusat paroki.
B. Bidang Pendidikan
Beliau sangat memperhatikan generasi muda masa depan gereja dengan mendirikan sekolah formal yaitu SDK Sidodadi, SMPK Arjowilangun dan SMPK Sumberpucung di bawah naungan Yayasan Karmel Keuskupan Malang. Beliau sendiri aktif mengajar di sekolah dengan dibantu seorang katekis keuskupan yang ditugaskan di Paroki Lodalem. Dari beberapa murid ini, ada yang menjadi imam, suster dan juga guru. (contohnya, Romo Adrianus Pristiono, O.Carm dan Suster Helena, P.Karm).
C. Bidang Ekonomi Umat
Situasi dan kondisi umat di era tahun 1960-an sangat memprihatinkan. Secara ekonomi setiap tahun pasti mengalami masa paceklik, sehingga umat kekurangan bahan makanan. Maka beliau mendirikan kumpulan petani pancasila yang bertugas memberi penyuluhan kepada umat cara bertani yang benar mulai dari pengolahan tanah, benih, pola tanam dan pemupukan yang baik. Beliau juga mendirikan lumbung paceklik di kelompok-kelompok umat. Setiap panen umat diharuskan menyisihkan sedikit hasil panen dan dikumpulkan bersama serta disimpan sebagai persiapan musim paceklik, sehingga pada musim paceklik tersebut umat dapat memanfaatkannya dengan sistem meminjan dan harus mengembalikan pada musim panen berikutnya. Dalam hal pakaian pun, beliau mengusahakan pakaian bekas yang jumlahnya besar dan dibagikan kepada umat secara gratis sebab harga pakaian saat itu tidak terjangkau oleh umat.
D. Bidang Kesehatan
Setiap kali bertugas melayani umat beliau mengajak tenaga kesehatan dari Suster Misericordia yang selalu siap obat dan tenaganya. Khusus di stasi Arjosari-Ajowilangun, beliau bekerjasama dengan RS. Panti Waluya menyediakan tenaga perawat yang selalu siap melayani umat. Dalam perkembangannya setelah berdirinya paroki, didirikan rumah kesehatan permanen sebagai balai pengobatan yang disebut Panti rahayu Lodalem sebagai cabang RS. Panti Waluya Malang. Balai Pengobatan tersebut secara resmi diberkati oleh Bpk. Uskup Mgr. FX. Hadisumarto O. Carm, Uskup Malang pada tahun 1975.
E. Persiapan Paroki Baru
Ketika Romo G.J.A. Lohuis O. Carm akan cuti ke Netherland (Belanda) selama 10 bulan sambil berobat untuk memulihkan kesehatannya, beliau berpesan kepada katekis agar mempersiapkan umat untuk menyambut berdirinya paroki sendiri, Lodalem akan dijadikan pusat paroki. Beliau juga mengatakan akan menjadi pastor paroki pertama sepulang dari cutinya. Sebagai persiapan, terutama gedung gereja yang berbentuk salib segera harus diselesaikan pembangunannya. Dengan semangat kerja bakti, umat secara bersama-sama menyelesaikan bangunan gereja tersebut, tepatnya menjelang Natal pada tahun 1970. Rm. Pius Budiwijoyo, Ocso sebagai pastor pembantu saat itu sudah dapat mempersembahkan misa di gereja yang baru diselesaikan tersebut, pada malam Natal dan Natal pagi pada tahun 1970.
Pada tanggal 27 Juni 1971 gedung gereja diberkati oleh Uskup Malang Mgr. A.E.J. Albers O. Carm. Pemotongan pita dilakukan oleh Bpk. Camat Kalipare yaitu Bpk. Wigyo Koyo Wardoyo. Dengan demikian umat telah dapat mengikuti ekaristi kudus setiap hari minggu di Rumah Tuhan.
Tepat pada tanggal 21 Juli 1971, misa kudus pelantikan alm. Romo G.J.A. Lohuis O. Carm sebagai pastor paroki pertama dipimpin oleh Uskup Malang Mgr. A.E.J. Albers O. Carm dihadapan seluruh umat. Demikianlah stasi Arjosari-Arjowilangun menjadi Paroki sendiri dengan pelindung St. Maria Annunciata yang meliputi kecamatan kalipare dan Sumberpucung.
(Bpk. Misidianto)
Anggapan warga masyarakat Arjowilangun, khususnya para penatua yang ada pada saat itu (seperti Bpk. Tun Tawar dan Bpk. Kamat) mengatakan bahwa tanah lokasi berdirinya Gereja termasuk tanah keramat atau angker. Dengan pandangan yang demikian, tidak ada masyarakat yang berani mendirikan rumahnya di tempat tersebut. Mereka yakin pada saat itu bahwa lokasi Gereja ini adalah tempat pusat kerajaan lelembut atau roh halus, ada jalan raya ke arah Brongkos-Kesamben-Blitar. Dan di lokasi ini terdapat sumber air tanah yang cukup besar dan ditumbuhi pohon rindang yang cukup besar. Semua itu melengkapi anggpan tanah keramat tersebut.
Di sisi lain, Lodalem disebut pasar dukun, yaitu tempat melunasi nazar warga dan hewan yang sakit. Dapat dilihat bahwa setiap hari jumat pahing pasar lodalem ramai dengan para pedagang serta penduduk yang berdatangan untuk melunasi nazarnya tersebut. Lembu-lembu yang sakit yang telah menjadi sembuh dibawa ke pasar Lodalem dengan ditandai membeli bunga dan mengalungkan kerupuk pada leher sapi tersebut. Hal ini dilakukan sebagai tanda pelunasan nazar, setelah itu, barulah sapinya dibawa pulang kembali
Menurut sejarahnya, yang menjadi pamong dusun Lodalem sekaligus menjadi orangtua adalah Eyang Bolo dan Eyang Reso yang menjadi ahli penyembuh hewan yang sakit. Pada saat peperangan antara Adipati Blitar melawan Adipati Sengguruh banyak pasukan yang terluka dan dirawat oleh Eyang Reso dan Bolo di Lodalem (rumah yang ditempati kaum terhormat). Pada saat perang kles I dan II sekitar tahun 1948 Lodalem menjadi tempat pengungsian. Tempat latihan baris-berbaris pasukan terletak di sebelah utara Lodalem yang sekarang disebut dusun Barisan. Karena hal inilah maka Lodalem terkenal sebagai pasar dukun. Sampai sekarang, dusun Lodalem menjadi bagian dari dusun Arjowilangun yang terdiri dari 5 pedusunan yaitu Duren, Pangganglele, Lotekol, Barisan dan Lodalem sendiri. Dahulu, yang menjadi pemimpin desa adalah Ki Demang Mertowijoyo yang petilasannya masih menjadi saksi sejarah sampai saat ini. Seperti Tanah Ngampel di Lodalem, Punden di Barisan, Sanggar dan Paron di Pangganglele serta Sumbersuko di Lotekol sedangkan di Duren disebut tanah Ngandong-Gurit.
Almarhum Rm. G.J.A. Lohuis, O. Carm mencari tempat untuk mendirikan gedung gereja. Sebenarnya beliau ditawari tanah sebelah Timur pasar Lodalem seluas 1 hektar dan strategis, tetapi beliau mencari tanah di sebelah Selatan pasar Lodalem dan mendapatkan tanah yang disebut masyarakat angker tersebut. Di sinilah didirikan gereja yang berbentuk salib dan pastoran tempat romo berdiam untuk menggembalakan umat. Oleh karena para imam sebagai wakil Kristus diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat, maka masyarakat berpendapat bahwa hanya para romolah (priyayi agung) yang mampu mendiami tanah tersebut. Jika kita maknai, dapat dikatakan bahwa Lodalem menjadi pasar dukun untuk manusia dan hewan yang sakit, mencari dukun sejati yaitu Kristus sendiri yang menyembuhkan sakit rohani (cacat jiwa karena dosa) serta sakit jasmani kita. Lewat sakramen-sakramen gereja, cacat dosa manusia disembuhkan. Karya penyembuhan jasmani dan rohani ini didukung dengan hadirnya Balai Pengobatan Panti Rahayu
Kita pantas bersyukur kepada Bapa yang Mahakasih karena Lodalem menjadi pusat penggembalaan umat dan menjadi paroki Maria Annunciata sejak 21 juli 1971 sampai sekarang dan Romo G.J.A. Lohuis O. Carm tetap menyertai umatnya sampai kebangkitan badan pada akhir zaman. Secara jasmani dan rohani ini bisa dirasakan umat dengan kehadiran makam beliau di samping gereja paroki.
Semoga paguyuban umat beriman paroki Maria Annunciata Lodalem terus berkembang menjadi umat beriman yang militan, mandiri, dan berdaya guna. Amin
SEPENGGAL KISAH ROMO G.J.A. LOHUIS O. CARM
Beliau adalah sosok imam karmelit misionaris yang sangat rajin membina dan melayani umat serta rajin berdoa khusuk sehingga semua tamu diharap sabar menunggu selesainya beliau berdoa. Sikap kebapaan, persaudaraan, serta kepemimpinannya tampak nyata dalam penggembalaan umat maupun pelayanan masyarakat.
A. Bidang Penggembalaan Umat
Secara rohani umat dilayani dengan pelajaran agama, rekoleksi dan ekaristi kudus yang terjadwal secara teratur. Untuk memudahkan pelayanan tersebut umat dibagi dalam beberapa kelompok mulai dari Kaliombo Timur, Kaliombo Barat (Umbulsari), Kalitelo, Tumpakrejo, Sumberpucung, Pangganglele, Barisan Utara dan Selatan, Sidodadi, Kedungwaru dan Lotekol. Para guru katolik dan katekis melayani umat lewat Legio Maria. Mereka bertugas mengunjugi umat dan mengajar agama para calon baptis. Hasilnya tampak dalam pembaptisan massal sampai ratusan orang, seperti di Kedungwaru dan Tumpakrejo. Kita bersyukur karena Allah memanggil calon-calon baptis saat itu. Jumlah umat yang cukup besar didirikan kapel, seperti di Tumpakrejo yang pembangunannya bersamaan dengan Gereja Salib di Lodalem yang kemudian menjadi pusat paroki.
B. Bidang Pendidikan
Beliau sangat memperhatikan generasi muda masa depan gereja dengan mendirikan sekolah formal yaitu SDK Sidodadi, SMPK Arjowilangun dan SMPK Sumberpucung di bawah naungan Yayasan Karmel Keuskupan Malang. Beliau sendiri aktif mengajar di sekolah dengan dibantu seorang katekis keuskupan yang ditugaskan di Paroki Lodalem. Dari beberapa murid ini, ada yang menjadi imam, suster dan juga guru. (contohnya, Romo Adrianus Pristiono, O.Carm dan Suster Helena, P.Karm).
C. Bidang Ekonomi Umat
Situasi dan kondisi umat di era tahun 1960-an sangat memprihatinkan. Secara ekonomi setiap tahun pasti mengalami masa paceklik, sehingga umat kekurangan bahan makanan. Maka beliau mendirikan kumpulan petani pancasila yang bertugas memberi penyuluhan kepada umat cara bertani yang benar mulai dari pengolahan tanah, benih, pola tanam dan pemupukan yang baik. Beliau juga mendirikan lumbung paceklik di kelompok-kelompok umat. Setiap panen umat diharuskan menyisihkan sedikit hasil panen dan dikumpulkan bersama serta disimpan sebagai persiapan musim paceklik, sehingga pada musim paceklik tersebut umat dapat memanfaatkannya dengan sistem meminjan dan harus mengembalikan pada musim panen berikutnya. Dalam hal pakaian pun, beliau mengusahakan pakaian bekas yang jumlahnya besar dan dibagikan kepada umat secara gratis sebab harga pakaian saat itu tidak terjangkau oleh umat.
D. Bidang Kesehatan
Setiap kali bertugas melayani umat beliau mengajak tenaga kesehatan dari Suster Misericordia yang selalu siap obat dan tenaganya. Khusus di stasi Arjosari-Ajowilangun, beliau bekerjasama dengan RS. Panti Waluya menyediakan tenaga perawat yang selalu siap melayani umat. Dalam perkembangannya setelah berdirinya paroki, didirikan rumah kesehatan permanen sebagai balai pengobatan yang disebut Panti rahayu Lodalem sebagai cabang RS. Panti Waluya Malang. Balai Pengobatan tersebut secara resmi diberkati oleh Bpk. Uskup Mgr. FX. Hadisumarto O. Carm, Uskup Malang pada tahun 1975.
E. Persiapan Paroki Baru
Ketika Romo G.J.A. Lohuis O. Carm akan cuti ke Netherland (Belanda) selama 10 bulan sambil berobat untuk memulihkan kesehatannya, beliau berpesan kepada katekis agar mempersiapkan umat untuk menyambut berdirinya paroki sendiri, Lodalem akan dijadikan pusat paroki. Beliau juga mengatakan akan menjadi pastor paroki pertama sepulang dari cutinya. Sebagai persiapan, terutama gedung gereja yang berbentuk salib segera harus diselesaikan pembangunannya. Dengan semangat kerja bakti, umat secara bersama-sama menyelesaikan bangunan gereja tersebut, tepatnya menjelang Natal pada tahun 1970. Rm. Pius Budiwijoyo, Ocso sebagai pastor pembantu saat itu sudah dapat mempersembahkan misa di gereja yang baru diselesaikan tersebut, pada malam Natal dan Natal pagi pada tahun 1970.
Pada tanggal 27 Juni 1971 gedung gereja diberkati oleh Uskup Malang Mgr. A.E.J. Albers O. Carm. Pemotongan pita dilakukan oleh Bpk. Camat Kalipare yaitu Bpk. Wigyo Koyo Wardoyo. Dengan demikian umat telah dapat mengikuti ekaristi kudus setiap hari minggu di Rumah Tuhan.
Tepat pada tanggal 21 Juli 1971, misa kudus pelantikan alm. Romo G.J.A. Lohuis O. Carm sebagai pastor paroki pertama dipimpin oleh Uskup Malang Mgr. A.E.J. Albers O. Carm dihadapan seluruh umat. Demikianlah stasi Arjosari-Arjowilangun menjadi Paroki sendiri dengan pelindung St. Maria Annunciata yang meliputi kecamatan kalipare dan Sumberpucung.
Posted on 12:28 AM
Paskah Dan HUT Tahun ke-40
Paskah 19 April 1965, delapan siswa SD Katolik Arjosari dibaptis. Tahun 1968, wilayah Desa Arjosari menjadi Stasi St Yohanes Arjosari. Akhir 1970, gereja stasi berdiri di Dusun Lodalem, Desa Arjowilangun.
Ketika gereja berdiri, wilayah stasi ini mencakup Desa Arjosari dan Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Stasi ini merupakan bagian dari Paroki Ratu Damai Purworejo, Keuskupan Malang. Gereja paroki ini terletak di Kecamatan Donomulyo, sebelah selatan Kecamatan Kalipare. Dari Malang, Donomulyo sekitar 60 kilometer. Kedua kecamatan ini, di sebelah barat, berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Kondisi geografis kedua wilayah berupa pegunungan kapur, dan wilayah Donomulyo berakhir di pantai selatan.
Malam Natal 1970, untuk pertama kali Gereja Lodalem dipakai untuk Perayaan Ekaristi, dan diresmikan pada 27 Juni 1971 oleh Uskup Malang Mgr H.E.J. Albers OCarm. Empat minggu sesudahnya, 21 Juli, stasi ini dijadikan paroki dengan nama St Maria Annunciata Lodalem.
Wilayahnya, ditambah dengan Stasi Sumber Pucung, yang terletak di Kecamatan Sumber Pucung, sebelah utara Kalipare, 35 kilometer dari Kota Malang, atau 40 kilometer dari Kota Blitar. Di tepi jalan raya Malang-Blitar, sebelah barat kota kecamatan Sumber Pucung, terdapat Desa Karang Kates, di mana Bendungan Sutami dibangun dan diresmikan pada tahun 1977.
Lodalem berada di arah barat daya Karang Kates, sekitar tujuh kilometer. Angkutan umum menuju Lodalem tidak selalu ada. Dari Terminal Karang Kates, Gereja Lodalem dapat ditempuh dengan ojek. Jika hari masih terang dan tidak hujan, ongkos ojek Rp 15.000, melewati portal Bendungan, kemudian memasuki hutan jati. Pukul 19.00, akses ini ditutup, hanya penduduk yang diizinkan lewat.
Jalan menuju Lodalem beraspal mulus. Akhir Maret lalu, di lahan-lahan kosong dan di sela-sela pohon jati, tanaman jagung tumbuh subur. Tanah itu milik Perhutani. Namun, penduduk diizinkan bercocok tanam. Jati-jati ini baru berumur sekitar tujuh tahun.
Lohuis-Lodalem
Terbentuknya dua paroki, Ratu Damai Purworejo dan Maria Annunciata Lodalem, tidak bisa dilepas dari sosok imam Karmelit asal Belanda, Hubertus G.JA. Lohuis OCarm. Pastor kelahiran Ootmarsum, 25 Agustus 1924 ini datang ke Indonesia pada 3 Mei 1951. Setelah menempuh pendidikan sebagai Karmelit di Malang, ia ditahbiskan menjadi imam, 19 Desember 1954. Ia dikenal sebagai imam yang tekun dan setia mencari umat yang tersebar akibat pendudukan Jepang.
Tahun 1926, di Balearjosari, daerah perkebunan di Malang Selatan, pernah berdiri gereja. Orang Jawa di paroki ini berjumlah sekitar 500 orang, tercerai berai, ketika para misionaris ditawan oleh tentara Jepang. Saat ini, gereja ini tinggal menyisakan puing-puing. Kabar dari mulut ke mulut, mereka tersebar di perkebunan di wilayah Donomulyo. Tahun 1950-an, Romo Lohuis berkeliling ke dari desa ke desa mencari mereka, dengan menggunakan sepeda motor atau “jeep”. Satu per satu, mereka ditemukan. Sosok Lohuis yang dikenal murah hati karena membantu warga miskin, antara lain memberi pakaian, membuat ia mudah diterima. Paroki Purworejo didirikan pada tahun 1960. Romo Lohuis pun ditugaskan menjadi pastor paroki pertama di tempat ini.
Ketika paroki ini didirikan, tidak ada petunjuk akan adanya umat Katolik di wilayah yang kini menjadi Paroki Lodalem. Jika 11 tahun kemudian wilayah ini menjadi paroki, adalah karena baptisan baru. Dan, awalnya adalah siswa Sekolah Rakyat (SR) Katolik St Yohanes Arjosari.
SR Katolik ini didirikan di Dusun Sidodadi pada 1961, atas permintaan Kepala Desa Arjosari. Waktu itu, SR di desa ini hanya ada satu, di Dusun Sumbertimo, tujuh kilometer dari Sidodadi.
M. Gino, guru pertama yang dikirim ke sekolah ini, mengisahkan, ia satu-satunya orang Katolik. Dengan bekal seadanya, seperti dituturkannya, ia mengajar agama Katolik kepada anak-anak dan orangtua pada hari Minggu. Tiga bulan sekali Romo Lohuis menempuh perjalanan 28 kilometer untuk merayakan Ekaristi di tempat ini.
Perkembangan pesat jumlah umat terjadi antara 1965-1968. Banyak warga yang tidak punya identitas keagamaan ketakutan setelah peristiwa G30SPKI. Dan, Romo Lohuis membaptis mereka yang ingin menjadi Katolik, tanpa pelajaran agama yang memadai, demi menyelamatkan mereka. Tetapi, masalah demi masalah bermunculan: istilah Tritunggal dijadikan tuduhan orang Katolik menyembah tiga Allah, penolakan pemakaman, hingga anggapan bahwa orang Katolik yang disunat berarti pindah agama.
Meskipun ada yang tidak bertahan, sebagian besar tekun mengikuti katekese, hingga akhirnya didirikan Paroki Lodalem, tahun 1971. Lagi-lagi, Romo Lohuis ditunjuk menjadi pastor paroki di Lodalem.
Tahun 2011: Mandiri
Dua tahun berkarya di Lodalem, Romo Lohuis wafat akibat serangan jantung, pada hari Rabu Wage, 8 Agustus 1973. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Gereja Lodalem, sesuai dengan permintaannya. Umat pun mengenangnya dengan cara sederhana. “Lodalem berasal dari kata Lo dan Dalem. Lo adalah nama sejenis pohon, dan Dalem berarti Rumah. Jika Huis dalam bahasa Belanda berarti Rumah, maka Lodalem sama dengan Lohuis.” Kutipan populer untuk menggambarkan sosoknya adalah: “Kalau kami pernah gila, kegila-gilaan itu hanya karena kepentingan Allah.” (2Kor 5:13)
Setelah Romo Lohuis, 24 imam Karmelit pernah berkarya di tempat ini. Masing-masing dengan “kegilagilaan” masing-masing. Misalnya, Pastor Leonardus Djawa OCarm pernah mengajak kaum muda turut memeriahkan takbir akbar Idul Fitri, dengan mengendarai mobil pastoran. Pastor Bernardus Soedarmojo OCarm membongkar gereja dengan alasan terlalu dekat jalan dan tembok sudah retak-retak. Ia membangun gereja berbentuk joglo, 30 meter dari jalan. Ia juga mengganti nama menjadi Paroki Hati Tersuci Maria, meskipun akhirnya karena alasan hukum, pada tahun 2009 dikembalikan ke nama semula.
Saat ini, Paroki Lodalem digembalakan Pastor Petrus Pahala Hasudungan OCarm. “Kegila-gilaan” yang didengungkan adalah kemandirian. Selain getol mendampingi paguyuban peternak, bersama Dewan Paroki ia membuat gerakan jimpitan beras/tepung singkong, “jimpitan” uang receh, dan amplop partisipasi umat. Meski menimbulkan pertentangan di kalangan umat, terbukti tahun ini Paroki Lodalem sudah mampu membiayai kegiatan paroki tanpa subsidi dari keuskupan.
Jumlah umat Paroki Lodalem saat ini 482 KK/1.662 jiwa, tersebar di delapan Paguyuban Umat Beriman (tujuh stasi, satu wilayah). Menjelang Paskah ke-45 sejak baptisan pertama, mereka menyiapkan yang terbaik untuk menyambut tetangga yang akan berkunjung. Di Stasi Maria Bunda Karmel Tumpak Rejo, di bukit tertinggi di wilayah ini, tradisi kunjungan pada saat Paskah tidak ada bedanya dengan Lebaran. Makanan pokok masyarakat Desa Tumpak Rejo, tiwul dan jagung.
Penulis: Benidiktus W., Laporan: Benny Sabdo Sumber : http://www.hidupkatolik.com/2011/05/23/paroki-maria-annunciata-lodalem-paskah-tahun-ke-40
Ketika gereja berdiri, wilayah stasi ini mencakup Desa Arjosari dan Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Stasi ini merupakan bagian dari Paroki Ratu Damai Purworejo, Keuskupan Malang. Gereja paroki ini terletak di Kecamatan Donomulyo, sebelah selatan Kecamatan Kalipare. Dari Malang, Donomulyo sekitar 60 kilometer. Kedua kecamatan ini, di sebelah barat, berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Kondisi geografis kedua wilayah berupa pegunungan kapur, dan wilayah Donomulyo berakhir di pantai selatan.
Malam Natal 1970, untuk pertama kali Gereja Lodalem dipakai untuk Perayaan Ekaristi, dan diresmikan pada 27 Juni 1971 oleh Uskup Malang Mgr H.E.J. Albers OCarm. Empat minggu sesudahnya, 21 Juli, stasi ini dijadikan paroki dengan nama St Maria Annunciata Lodalem.
Wilayahnya, ditambah dengan Stasi Sumber Pucung, yang terletak di Kecamatan Sumber Pucung, sebelah utara Kalipare, 35 kilometer dari Kota Malang, atau 40 kilometer dari Kota Blitar. Di tepi jalan raya Malang-Blitar, sebelah barat kota kecamatan Sumber Pucung, terdapat Desa Karang Kates, di mana Bendungan Sutami dibangun dan diresmikan pada tahun 1977.
Lodalem berada di arah barat daya Karang Kates, sekitar tujuh kilometer. Angkutan umum menuju Lodalem tidak selalu ada. Dari Terminal Karang Kates, Gereja Lodalem dapat ditempuh dengan ojek. Jika hari masih terang dan tidak hujan, ongkos ojek Rp 15.000, melewati portal Bendungan, kemudian memasuki hutan jati. Pukul 19.00, akses ini ditutup, hanya penduduk yang diizinkan lewat.
Jalan menuju Lodalem beraspal mulus. Akhir Maret lalu, di lahan-lahan kosong dan di sela-sela pohon jati, tanaman jagung tumbuh subur. Tanah itu milik Perhutani. Namun, penduduk diizinkan bercocok tanam. Jati-jati ini baru berumur sekitar tujuh tahun.
Lohuis-Lodalem
Terbentuknya dua paroki, Ratu Damai Purworejo dan Maria Annunciata Lodalem, tidak bisa dilepas dari sosok imam Karmelit asal Belanda, Hubertus G.JA. Lohuis OCarm. Pastor kelahiran Ootmarsum, 25 Agustus 1924 ini datang ke Indonesia pada 3 Mei 1951. Setelah menempuh pendidikan sebagai Karmelit di Malang, ia ditahbiskan menjadi imam, 19 Desember 1954. Ia dikenal sebagai imam yang tekun dan setia mencari umat yang tersebar akibat pendudukan Jepang.
Tahun 1926, di Balearjosari, daerah perkebunan di Malang Selatan, pernah berdiri gereja. Orang Jawa di paroki ini berjumlah sekitar 500 orang, tercerai berai, ketika para misionaris ditawan oleh tentara Jepang. Saat ini, gereja ini tinggal menyisakan puing-puing. Kabar dari mulut ke mulut, mereka tersebar di perkebunan di wilayah Donomulyo. Tahun 1950-an, Romo Lohuis berkeliling ke dari desa ke desa mencari mereka, dengan menggunakan sepeda motor atau “jeep”. Satu per satu, mereka ditemukan. Sosok Lohuis yang dikenal murah hati karena membantu warga miskin, antara lain memberi pakaian, membuat ia mudah diterima. Paroki Purworejo didirikan pada tahun 1960. Romo Lohuis pun ditugaskan menjadi pastor paroki pertama di tempat ini.
Ketika paroki ini didirikan, tidak ada petunjuk akan adanya umat Katolik di wilayah yang kini menjadi Paroki Lodalem. Jika 11 tahun kemudian wilayah ini menjadi paroki, adalah karena baptisan baru. Dan, awalnya adalah siswa Sekolah Rakyat (SR) Katolik St Yohanes Arjosari.
SR Katolik ini didirikan di Dusun Sidodadi pada 1961, atas permintaan Kepala Desa Arjosari. Waktu itu, SR di desa ini hanya ada satu, di Dusun Sumbertimo, tujuh kilometer dari Sidodadi.
M. Gino, guru pertama yang dikirim ke sekolah ini, mengisahkan, ia satu-satunya orang Katolik. Dengan bekal seadanya, seperti dituturkannya, ia mengajar agama Katolik kepada anak-anak dan orangtua pada hari Minggu. Tiga bulan sekali Romo Lohuis menempuh perjalanan 28 kilometer untuk merayakan Ekaristi di tempat ini.
Perkembangan pesat jumlah umat terjadi antara 1965-1968. Banyak warga yang tidak punya identitas keagamaan ketakutan setelah peristiwa G30SPKI. Dan, Romo Lohuis membaptis mereka yang ingin menjadi Katolik, tanpa pelajaran agama yang memadai, demi menyelamatkan mereka. Tetapi, masalah demi masalah bermunculan: istilah Tritunggal dijadikan tuduhan orang Katolik menyembah tiga Allah, penolakan pemakaman, hingga anggapan bahwa orang Katolik yang disunat berarti pindah agama.
Meskipun ada yang tidak bertahan, sebagian besar tekun mengikuti katekese, hingga akhirnya didirikan Paroki Lodalem, tahun 1971. Lagi-lagi, Romo Lohuis ditunjuk menjadi pastor paroki di Lodalem.
Tahun 2011: Mandiri
Dua tahun berkarya di Lodalem, Romo Lohuis wafat akibat serangan jantung, pada hari Rabu Wage, 8 Agustus 1973. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Gereja Lodalem, sesuai dengan permintaannya. Umat pun mengenangnya dengan cara sederhana. “Lodalem berasal dari kata Lo dan Dalem. Lo adalah nama sejenis pohon, dan Dalem berarti Rumah. Jika Huis dalam bahasa Belanda berarti Rumah, maka Lodalem sama dengan Lohuis.” Kutipan populer untuk menggambarkan sosoknya adalah: “Kalau kami pernah gila, kegila-gilaan itu hanya karena kepentingan Allah.” (2Kor 5:13)
Setelah Romo Lohuis, 24 imam Karmelit pernah berkarya di tempat ini. Masing-masing dengan “kegilagilaan” masing-masing. Misalnya, Pastor Leonardus Djawa OCarm pernah mengajak kaum muda turut memeriahkan takbir akbar Idul Fitri, dengan mengendarai mobil pastoran. Pastor Bernardus Soedarmojo OCarm membongkar gereja dengan alasan terlalu dekat jalan dan tembok sudah retak-retak. Ia membangun gereja berbentuk joglo, 30 meter dari jalan. Ia juga mengganti nama menjadi Paroki Hati Tersuci Maria, meskipun akhirnya karena alasan hukum, pada tahun 2009 dikembalikan ke nama semula.
Saat ini, Paroki Lodalem digembalakan Pastor Petrus Pahala Hasudungan OCarm. “Kegila-gilaan” yang didengungkan adalah kemandirian. Selain getol mendampingi paguyuban peternak, bersama Dewan Paroki ia membuat gerakan jimpitan beras/tepung singkong, “jimpitan” uang receh, dan amplop partisipasi umat. Meski menimbulkan pertentangan di kalangan umat, terbukti tahun ini Paroki Lodalem sudah mampu membiayai kegiatan paroki tanpa subsidi dari keuskupan.
Jumlah umat Paroki Lodalem saat ini 482 KK/1.662 jiwa, tersebar di delapan Paguyuban Umat Beriman (tujuh stasi, satu wilayah). Menjelang Paskah ke-45 sejak baptisan pertama, mereka menyiapkan yang terbaik untuk menyambut tetangga yang akan berkunjung. Di Stasi Maria Bunda Karmel Tumpak Rejo, di bukit tertinggi di wilayah ini, tradisi kunjungan pada saat Paskah tidak ada bedanya dengan Lebaran. Makanan pokok masyarakat Desa Tumpak Rejo, tiwul dan jagung.
Penulis: Benidiktus W., Laporan: Benny Sabdo Sumber : http://www.hidupkatolik.com/2011/05/23/paroki-maria-annunciata-lodalem-paskah-tahun-ke-40
Posted on 11:17 PM
Gerakan Berbagi Umat Lodalem
Markus Musito bingung. Sapinya lemas terkapar di kandang, tidak mau makan dan minum. Hutang untuk membeli sapi itu belum lunas.
Musito menghubungi Budi, tetangga yang tahu tentang seluk beluk kesehatan sapi. Budi memeriksa sapi itu, tetapi tidak menemukan penyakit yang diderita si sapi. Pastor Paroki Lodalem, Petrus Pahala Hasudungan OCarm pun datang ke kandang sapinya. Romo Pahala mengelus-elus sapi itu, dan berdoa.
Tetapi, pada akhirnya, Musito memutuskan memotong sapi itu, setelah berbincang tentang utang piutang. Kebetulan, Romo Pahala menjadi penghubung Musito dengan pemberi modal usaha ternak sapi perahnya. Romo Pahala berjanji akan membantu menegosiasikan perubahan jadwal pelunasan hutang, berdasarkan jumlah sapi yang masih ada. “Saya pasrah, anggap saja Tuhan menghendaki saya berbagi daging dengan tetangga,” tutur Musito.
Musito lahir 50 tahun lalu, di Dusun Sidodadi, Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare. Sidodadi adalah salah satu stasi dari Paroki Lodalem. Dari gereja paroki, Sidodadi berjarak kurang lebih dua kilometer. Mayoritas masyarakat Sidodadi adalah petani. Lahan yang dikerjakan adalah tanah tadah hujan.
Musito dibaptis oleh Pastor Hubertus G.J.A. Lohuis OCarm, ketika kelas lima SD. Ia tertarik menjadi Katolik, karena sosok Romo Lohuis. “Beliau orang yang luwes dalam bergaul, dan banyak membantu orang miskin,” ungkapnya.
Lulus dari SMA Sanjaya Malang, 1982, sebenarnya Musito ingin kuliah. Tetapi, tidak punya biaya. Maka, ia pun pulang kampung. Musito menikah dan dikaruniai dua anak. Saat ini, anak pertamanya studi di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang, sedangkan anak kedua kelas III STM Brantas Karangkates.
Karena pengalamannya tinggal di kota, ia pun dipercaya menjadi Ketua Mudika Paroki. Sejak itu, ia tidak lepas dari aktivitas di paroki. Ia pernah menjadi Ketua Stasi St Yohanes Sidodadi selama 13 tahun. Sekarang, Musito adalah Ketua Bidang Pelayanan Paroki Lodalem, meliputi Seksi Sosial Paroki (SSP), Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan. Ia juga Ketua Koperasi CU Abadi, Ketua Paguyuban Peternak Sapi, dan Ketua Panitia Pelaksana Baksos dalam rangka 40 tahun Paroki Lodalem.
Spirit berbagi
Musito menceritakan, bersama Romo Pahala, ia mendirikan paguyuban peternak sapi perah. Hingga kini, anggotanya masih sebatas umat Katolik. Selain untuk menambah pendapatan, paguyuban diharapkan menjadi sarana belajar kewirausahaan. Dengan terbentuknya paguyuban, para anggota bisa saling membantu. Kini, anggota paguyuban sudah ada yang mendalami bidang nutrisi ternak, juga kesehatan ternak.
“Kami tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga berbagi dalam hal nyata. Ada peternak yang tidak punya kandang, maka sapinya bisa ditempatkan di kandang anggota lainnya. Dengan paguyuban, kita bisa mengambil keputusan bersama, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh blantik (pedagang sapi), atau pembeli susu. Sayangnya, kami belum bisa menjual susu langsung ke tangan pertama, karena belum punya sarana, misalnya tester susu,” jelas Musito.
Selama ini, masyarakat Lodalem cenderung pergi mencari kerja sebagai buruh di kota, bahkan luar negeri. Jika peternakan sapi berhasil, diharapkan semakin banyak orang bergabung dalam paguyuban, dan terbantu secara ekonomi. Musito juga yakin, jika orang mau beternak, pertanian juga akan berhasil, karena limbah peternakan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sebaliknya, hasil pertanian, termasuk limbahnya, bisa diolah untuk makanan ternak. Dan, pencurian kayu di hutan akan berkurang.
Kini, jumlah sapi perah dari anggota yang tergabung dalam paguyuban sudah 59 ekor, terdiri dari 40 sapi dan 19 pedhet (anak sapi). Ada empat warga yang belum berani memulai beternak sapi, memulai dengan ternak kambing etawa. Awalnya, peran Romo Pahala dibutuhkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Namun kini, secara bersama-sama, mereka sudah berani mengambil keputusan, misalnya dalam menetapkan harga jual susu.
Jimpitan beras
Tentang aktivitas yang digelutinya, Musito mengatakan, “Jiwa saya terpanggil di sini, saya merasa selalu tergerak kalau ada yang membutuhkan pertolongan.” Ia mau terjun dalam karya-karya sosial Gereja Lodalem, awalnya karena ajakan Jumari, seorang tokoh Gereja Lodalem. Jumari mengajak mengenal Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Malang. Setelah itu, di Stasi St Yohanes Sidodadi, ia memelopori gerakan jimpitan beras.
“Kami tidak menyadari, seringkali kami membuang nasi sisa. Daripada sisa, lebih baik beras disisihkan sebagian sebelum dimasak. Cukup satu sendok. Beras itu kami kumpulkan, dan pada saat menjelang Natal dan Paskah, beras itu kami jual. Hasil penjualan kami belikan bingkisan Natal dan Paskah, dan kami bagikan kepada saudara-saudari yang membutuhkan,” demikian Musito.
Dengan gerakan ini, Musito ingin mengajak umat Katolik untuk menyadari betapa satu sendok beras itu sangat berarti. “Ketika Romo Pahala bertugas di sini, gerakan ini semakin kenceng dan dijadikan program paroki,” lanjut Musito.
Beras dan tepung singkong yang dikumpulkan dari jimpitan ini akan digunakan sebagai cadangan pangan, mengantisipasi musim paceklik. Dan, terinspirasi gerakan jimpitan ini, Paroki Lodalem juga membuat gerakan pengumpulan uang receh, dan dana partisipasi sukarela dari umat setiap akhir bulan, untuk dana operasional kegiatan paroki.
Musito mengungkapkan, masih banyak orang yang menganggap gerakan ini sebagai beban. Namun, bagi Musito, itu justru menjadi tantangan. Apalagi, dengan gerakan itu, sekarang Paroki Lodalem bisa mandiri dalam finansial, tidak lagi disubsidi keuskupan. “Dalam kekurangan, kita pun bisa ambil bagian dalam kehidupan bersama sebagai warga paroki,” demikian Musito, “Dan, saya yakin, sejimpit beras akan bermanfaat bagi mereka yang kekurangan.”
Penulis: Benny Sabdo Sumber :http://www.hidupkatolik.com/2011/05/23/gerakan-berbagi-umat-lodalem
Musito menghubungi Budi, tetangga yang tahu tentang seluk beluk kesehatan sapi. Budi memeriksa sapi itu, tetapi tidak menemukan penyakit yang diderita si sapi. Pastor Paroki Lodalem, Petrus Pahala Hasudungan OCarm pun datang ke kandang sapinya. Romo Pahala mengelus-elus sapi itu, dan berdoa.
Tetapi, pada akhirnya, Musito memutuskan memotong sapi itu, setelah berbincang tentang utang piutang. Kebetulan, Romo Pahala menjadi penghubung Musito dengan pemberi modal usaha ternak sapi perahnya. Romo Pahala berjanji akan membantu menegosiasikan perubahan jadwal pelunasan hutang, berdasarkan jumlah sapi yang masih ada. “Saya pasrah, anggap saja Tuhan menghendaki saya berbagi daging dengan tetangga,” tutur Musito.
Musito lahir 50 tahun lalu, di Dusun Sidodadi, Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare. Sidodadi adalah salah satu stasi dari Paroki Lodalem. Dari gereja paroki, Sidodadi berjarak kurang lebih dua kilometer. Mayoritas masyarakat Sidodadi adalah petani. Lahan yang dikerjakan adalah tanah tadah hujan.
Musito dibaptis oleh Pastor Hubertus G.J.A. Lohuis OCarm, ketika kelas lima SD. Ia tertarik menjadi Katolik, karena sosok Romo Lohuis. “Beliau orang yang luwes dalam bergaul, dan banyak membantu orang miskin,” ungkapnya.
Lulus dari SMA Sanjaya Malang, 1982, sebenarnya Musito ingin kuliah. Tetapi, tidak punya biaya. Maka, ia pun pulang kampung. Musito menikah dan dikaruniai dua anak. Saat ini, anak pertamanya studi di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang, sedangkan anak kedua kelas III STM Brantas Karangkates.
Karena pengalamannya tinggal di kota, ia pun dipercaya menjadi Ketua Mudika Paroki. Sejak itu, ia tidak lepas dari aktivitas di paroki. Ia pernah menjadi Ketua Stasi St Yohanes Sidodadi selama 13 tahun. Sekarang, Musito adalah Ketua Bidang Pelayanan Paroki Lodalem, meliputi Seksi Sosial Paroki (SSP), Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan. Ia juga Ketua Koperasi CU Abadi, Ketua Paguyuban Peternak Sapi, dan Ketua Panitia Pelaksana Baksos dalam rangka 40 tahun Paroki Lodalem.
Spirit berbagi
Musito menceritakan, bersama Romo Pahala, ia mendirikan paguyuban peternak sapi perah. Hingga kini, anggotanya masih sebatas umat Katolik. Selain untuk menambah pendapatan, paguyuban diharapkan menjadi sarana belajar kewirausahaan. Dengan terbentuknya paguyuban, para anggota bisa saling membantu. Kini, anggota paguyuban sudah ada yang mendalami bidang nutrisi ternak, juga kesehatan ternak.
“Kami tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga berbagi dalam hal nyata. Ada peternak yang tidak punya kandang, maka sapinya bisa ditempatkan di kandang anggota lainnya. Dengan paguyuban, kita bisa mengambil keputusan bersama, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh blantik (pedagang sapi), atau pembeli susu. Sayangnya, kami belum bisa menjual susu langsung ke tangan pertama, karena belum punya sarana, misalnya tester susu,” jelas Musito.
Selama ini, masyarakat Lodalem cenderung pergi mencari kerja sebagai buruh di kota, bahkan luar negeri. Jika peternakan sapi berhasil, diharapkan semakin banyak orang bergabung dalam paguyuban, dan terbantu secara ekonomi. Musito juga yakin, jika orang mau beternak, pertanian juga akan berhasil, karena limbah peternakan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sebaliknya, hasil pertanian, termasuk limbahnya, bisa diolah untuk makanan ternak. Dan, pencurian kayu di hutan akan berkurang.
Kini, jumlah sapi perah dari anggota yang tergabung dalam paguyuban sudah 59 ekor, terdiri dari 40 sapi dan 19 pedhet (anak sapi). Ada empat warga yang belum berani memulai beternak sapi, memulai dengan ternak kambing etawa. Awalnya, peran Romo Pahala dibutuhkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Namun kini, secara bersama-sama, mereka sudah berani mengambil keputusan, misalnya dalam menetapkan harga jual susu.
Jimpitan beras
Tentang aktivitas yang digelutinya, Musito mengatakan, “Jiwa saya terpanggil di sini, saya merasa selalu tergerak kalau ada yang membutuhkan pertolongan.” Ia mau terjun dalam karya-karya sosial Gereja Lodalem, awalnya karena ajakan Jumari, seorang tokoh Gereja Lodalem. Jumari mengajak mengenal Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Malang. Setelah itu, di Stasi St Yohanes Sidodadi, ia memelopori gerakan jimpitan beras.
“Kami tidak menyadari, seringkali kami membuang nasi sisa. Daripada sisa, lebih baik beras disisihkan sebagian sebelum dimasak. Cukup satu sendok. Beras itu kami kumpulkan, dan pada saat menjelang Natal dan Paskah, beras itu kami jual. Hasil penjualan kami belikan bingkisan Natal dan Paskah, dan kami bagikan kepada saudara-saudari yang membutuhkan,” demikian Musito.
Dengan gerakan ini, Musito ingin mengajak umat Katolik untuk menyadari betapa satu sendok beras itu sangat berarti. “Ketika Romo Pahala bertugas di sini, gerakan ini semakin kenceng dan dijadikan program paroki,” lanjut Musito.
Beras dan tepung singkong yang dikumpulkan dari jimpitan ini akan digunakan sebagai cadangan pangan, mengantisipasi musim paceklik. Dan, terinspirasi gerakan jimpitan ini, Paroki Lodalem juga membuat gerakan pengumpulan uang receh, dan dana partisipasi sukarela dari umat setiap akhir bulan, untuk dana operasional kegiatan paroki.
Musito mengungkapkan, masih banyak orang yang menganggap gerakan ini sebagai beban. Namun, bagi Musito, itu justru menjadi tantangan. Apalagi, dengan gerakan itu, sekarang Paroki Lodalem bisa mandiri dalam finansial, tidak lagi disubsidi keuskupan. “Dalam kekurangan, kita pun bisa ambil bagian dalam kehidupan bersama sebagai warga paroki,” demikian Musito, “Dan, saya yakin, sejimpit beras akan bermanfaat bagi mereka yang kekurangan.”
Penulis: Benny Sabdo Sumber :http://www.hidupkatolik.com/2011/05/23/gerakan-berbagi-umat-lodalem
Posted on 11:13 PM
Imam dan Saudara
Seorang perempuan menyegat Romo Pahala, mengulurkan tas plastik. “Pirang kilo, iki (Berapa kilogram, ini)?” tanya Romo Pahala.
Perempuan itu tersenyum, lantas menjawab, ”Boten ditimbang, Romo (Tidak ditimbang, Romo)”. Plastik itu berisi beras, kurang lebih tiga kilogram. Jika umat jujur, beras itu dikumpulkan dari setiap keluarga, satu sendok sehari. Waktu itu, usai Misa Minggu, 20/3, di kapel lingkungan Umbul Dawe, Stasi St Yoseph Kaliasri.
Bagi Romo Pahala, banyaknya beras tidak penting. Lebih penting, umat menyisihkan satu sendok beras sebelum memasak dengan keyakinan beras itu akan bermanfaat bagi orang lain. Beras itu untuk stok bahan makan, mengantisipasi musim paceklik.
Selain itu, imam Ordo Karmelit (OCarm) bernama lengkap Petrus Pahala Hasudungan Parmonangan Lumban Gaol itu juga mengajak umat mengumpulkan uang receh, dan mengisi amplop partisipasi untuk keperluan paroki. Meskipun tidak semua umat suka gerakan ini, tahun ini Paroki Lodalem tidak lagi disubsidi keuskupan.
Romo Pahala mulai ditugaskan di Lodalem sejak 8 Agustus 2007. Ia kelahiran Sumatra Utara, 24 Mei 1974. Tertarik masuk Karmelit, karena terpikat oleh suasana guyonan para Karmelit yang berkarya di parokinya, St Paulus Pasar Merah Medan. Ia menangkap guyonan itu sebagai wujud persaudaraan. Persaudaraan harus diwujudkan dalam kerasulan, termasuk option for the poor. Tetapi, Romo Pahala mengakui, ia tidak tahu bagaimana mewujudkannya, hingga ia menjalani masa diakonat di Paroki Ratu Damai Purworejo.
Ia diminta ikut dalam gerakan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), oleh Pastor A. Eko Aldilanto OCarm yang waktu itu menjadi Delegatus Sosial Keuskupan Malang. Romo Pahala mencermati, sebelumnya, bantuan PSE tidak pernah sampai ke yang membutuhkan. Malah, dimanfaatkan oleh orang tertentu.
Dengan persetujuan pastor paroki, ia mulai mengajak ibu-ibu membentuk kelompok usaha kripik singkong, tales, dan pisang, kemudian disusul dengan kelompok usaha “Enting Jahe”. Bahkan, dengan bantuan konsep teknologi dari Universitas Brawijaya Malang, terbentuk kelompok usaha minyak kelapa. Sehari bisa menghasilkan 50-100 liter. Sayangnya, usaha ini hanya bertahan enam bulan, karena lonjakan harga kelapa. Setelah tahbisan, 7 Mei 2003, Romo Pahala pun ditugaskan di Paroki Purworejo, dan diminta memimpin Credit Union sekaligus kelompok peternak sapi perah di Paroki Lodalem.
Dua tahun kemudian, Romo Pahala diminta melanjutkan studi spiritualitas ke Belanda. Namun, setelah sampai di sana, ia minta pulang. “Rasanya, saya sudah tidak bisa duduk dan baca lagi,” akunya.
Ia pun ditugaskan ke Keuskupan Palangkaraya. Di samping tugas pastoral parokial, ia bekerjasama dengan Dinas Perkebunan, mendampingi masyarakat menanam karet seluas 25 hektar. Setelah dua tahun di sana, ia ditugaskan di Lodalem.
Menjadi imam Karmelit yang diberi tugas pastoral parokial, bagi Romo Pahala, tidak sebatas hanya mengelola Gereja paroki sebagai umat Allah. Semangat persaudaraan Karmelit juga ia bawa dalam persaudaraan dengan sesama. Dan, persaudaraan akan terwujud, jika setiap orang berdiri pada posisi sejajar. ”Ini lho saya, saudaramu, yang kebetulan imam,” Romo Pahala mengungkapkan.
Sebagaimana Yesus membasuh kaki para murid-Nya, ia pun ingin membasuh kaki semua orang. ”Pada akhirnya, mereka harus bisa menghitung sendiri, memutuskan sendiri,” Romo Pahala yakin. Secara pribadi, ia tidak memperoleh bagian keuntungan. Tetapi, dengan landasan doa yang kuat, mereka akan bersyukur, dan mestinya juga berbagi kepada sesama.
Romo Pahala melakukan semua itu di tengah kesibukannya sebagai pastor Paroki Lodalem, juga Deken Malang Selatan, Pastor Paroki Purworejo. Ia juga dilibatkan dalam Tribunal Keuskupan Malang.
Romo Pahala pun menyadari, dirinya punya kelemahan. Ia jarang makan bersama dengan saudara sekomunitas di pastoran, yakni Diakon Kartolo Malau OCarm. ”Mudah-mudahan,” ungkap Romo Pahala, ”saya bisa mengatur waktu, hingga setidaknya kami bisa makan dan berdoa bersama.”
Penulis: Benidiktus W. Sumber : http://www.hidupkatolik.com/2011/05/23/imam-dan-saudara
Perempuan itu tersenyum, lantas menjawab, ”Boten ditimbang, Romo (Tidak ditimbang, Romo)”. Plastik itu berisi beras, kurang lebih tiga kilogram. Jika umat jujur, beras itu dikumpulkan dari setiap keluarga, satu sendok sehari. Waktu itu, usai Misa Minggu, 20/3, di kapel lingkungan Umbul Dawe, Stasi St Yoseph Kaliasri.
Bagi Romo Pahala, banyaknya beras tidak penting. Lebih penting, umat menyisihkan satu sendok beras sebelum memasak dengan keyakinan beras itu akan bermanfaat bagi orang lain. Beras itu untuk stok bahan makan, mengantisipasi musim paceklik.
Selain itu, imam Ordo Karmelit (OCarm) bernama lengkap Petrus Pahala Hasudungan Parmonangan Lumban Gaol itu juga mengajak umat mengumpulkan uang receh, dan mengisi amplop partisipasi untuk keperluan paroki. Meskipun tidak semua umat suka gerakan ini, tahun ini Paroki Lodalem tidak lagi disubsidi keuskupan.
Romo Pahala mulai ditugaskan di Lodalem sejak 8 Agustus 2007. Ia kelahiran Sumatra Utara, 24 Mei 1974. Tertarik masuk Karmelit, karena terpikat oleh suasana guyonan para Karmelit yang berkarya di parokinya, St Paulus Pasar Merah Medan. Ia menangkap guyonan itu sebagai wujud persaudaraan. Persaudaraan harus diwujudkan dalam kerasulan, termasuk option for the poor. Tetapi, Romo Pahala mengakui, ia tidak tahu bagaimana mewujudkannya, hingga ia menjalani masa diakonat di Paroki Ratu Damai Purworejo.
Ia diminta ikut dalam gerakan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), oleh Pastor A. Eko Aldilanto OCarm yang waktu itu menjadi Delegatus Sosial Keuskupan Malang. Romo Pahala mencermati, sebelumnya, bantuan PSE tidak pernah sampai ke yang membutuhkan. Malah, dimanfaatkan oleh orang tertentu.
Dengan persetujuan pastor paroki, ia mulai mengajak ibu-ibu membentuk kelompok usaha kripik singkong, tales, dan pisang, kemudian disusul dengan kelompok usaha “Enting Jahe”. Bahkan, dengan bantuan konsep teknologi dari Universitas Brawijaya Malang, terbentuk kelompok usaha minyak kelapa. Sehari bisa menghasilkan 50-100 liter. Sayangnya, usaha ini hanya bertahan enam bulan, karena lonjakan harga kelapa. Setelah tahbisan, 7 Mei 2003, Romo Pahala pun ditugaskan di Paroki Purworejo, dan diminta memimpin Credit Union sekaligus kelompok peternak sapi perah di Paroki Lodalem.
Dua tahun kemudian, Romo Pahala diminta melanjutkan studi spiritualitas ke Belanda. Namun, setelah sampai di sana, ia minta pulang. “Rasanya, saya sudah tidak bisa duduk dan baca lagi,” akunya.
Ia pun ditugaskan ke Keuskupan Palangkaraya. Di samping tugas pastoral parokial, ia bekerjasama dengan Dinas Perkebunan, mendampingi masyarakat menanam karet seluas 25 hektar. Setelah dua tahun di sana, ia ditugaskan di Lodalem.
Menjadi imam Karmelit yang diberi tugas pastoral parokial, bagi Romo Pahala, tidak sebatas hanya mengelola Gereja paroki sebagai umat Allah. Semangat persaudaraan Karmelit juga ia bawa dalam persaudaraan dengan sesama. Dan, persaudaraan akan terwujud, jika setiap orang berdiri pada posisi sejajar. ”Ini lho saya, saudaramu, yang kebetulan imam,” Romo Pahala mengungkapkan.
Sebagaimana Yesus membasuh kaki para murid-Nya, ia pun ingin membasuh kaki semua orang. ”Pada akhirnya, mereka harus bisa menghitung sendiri, memutuskan sendiri,” Romo Pahala yakin. Secara pribadi, ia tidak memperoleh bagian keuntungan. Tetapi, dengan landasan doa yang kuat, mereka akan bersyukur, dan mestinya juga berbagi kepada sesama.
Romo Pahala melakukan semua itu di tengah kesibukannya sebagai pastor Paroki Lodalem, juga Deken Malang Selatan, Pastor Paroki Purworejo. Ia juga dilibatkan dalam Tribunal Keuskupan Malang.
Romo Pahala pun menyadari, dirinya punya kelemahan. Ia jarang makan bersama dengan saudara sekomunitas di pastoran, yakni Diakon Kartolo Malau OCarm. ”Mudah-mudahan,” ungkap Romo Pahala, ”saya bisa mengatur waktu, hingga setidaknya kami bisa makan dan berdoa bersama.”
Penulis: Benidiktus W. Sumber : http://www.hidupkatolik.com/2011/05/23/imam-dan-saudara
Posted on 11:09 PM
Kekayaan Gereja Paroki Lodalem
Kekayaan Gereja
Umat yang Guyub
Suatu kekayaan yang luar biasa jika umat selalu bisa ambil bagian dalam karya perutusan gereja, baik dalam masyarakat, keluarga, pekerjaan kantor dan pelayanan gereja. Inilah pertanda umat yang luar biasa, yaitu umat yang bijak untuk ambil bagian dalam karya pelayanan. Umat Paroki Maria Annunciata dalam hal ini masih harus terus membangun kesadaran akan pentingnya kebersamaan. Kesadaran ini lahir karena kita satu baptisan, satu iman, yaitu Yesus Kristus. Kebersamaan ini umumnya dibina di paroki ini lewat kegiatan bersama yang ada di wilayah atau lingkungan, yaitu doa bersama, berbagi rezeki dengan sesama dan kerjabakti. Hal ini akan lebih terlihat jelas dalam setiap pesta rakyat dan pesta gereja.
Putra – Putri Altar
Kelompok yang satu ini cukup hidup dalam paroki dan juga stasi. Mereka tidak hanya ambil bagian dalam pelayanan ekaristi atau ibadat di gereja, tetapi mereka juga terus membina diri dengan diadakannya pertemuan rutin. Dalam pertemuan rutin ini, mereka berdoa bersama dan merenungkan Kitab Suci sebagai sumber kekuatan iman. Mereka adalah masa depan gereja dan kehadiran mereka memberi warna tersendiri di dalam gereja.
OMK (Orang Muda Katolik)
Tunas muda gereja ini sangat penting peranannya dalam gereja. Meskippun dalam masa-masa pencarian identitas diri, mereka juga terus membangun ikatan dengan sesama mereka. Dengan mengadakan pertemuan bulanan, mereka berusaha untuk meneguhkan satu sama lain dan mencari sesama kaum muda yang jarang terlibat dalam jaringan rohani di gereja. Sebagai bagian dari gereja, mereka berusaha untuk terlibat penuh dalam pelayana gereja, ambil bagian dalam liturgi dan juga karya sosial gereja lainnya. Pantas kita syukuri bahwa kaum muda katolik semakin menyadari pentingnya iman dalam menopang perjalanan hidup mereka, pentingnya merayakan iman bersama umat yang lainnya dan pentingnya menyediakan waktu untuk berbagi pengalaman akan Allah dengan sesama kaum muda.
Pelayanan Komuni Orang Sakit
Karya yang satu ini membutuhkan kesabaran dan seni tersendiri. Sebab pelayan yang melakukan tugas ini harus berhadapan dengan Yesus yang ada dalam diri orang-orang yang sakit, tua dan tidak berdaya. Terkadang yang dilayani tidak bisa lagi mendengar dan melihat, tetapi Yesus yang diam dalam diri mereka selalu melihat dan mendengar kita yang mau melayani mereka. Suster Misericordia selalu setia dalam melakukan tugas mulia ini. Setiap Jumat pertama dan Selasa Pahing suster selalu mengunjungi mereka yang sakit, tua dan lemah; serta memberikan kepada mereka komuni Kudus sebagai sumber kekuatan rohani dalam hidupnya.
Kelompok SSV
Kehadiran kelompok ini memberi warna tersendiri dalam gereja. Benar bahwa gereja tidak bisa dipisahkan dengan kaum miskin. Karena itu, SSV menjadi kelompok yang banyak memberi perhatian dan pertolongan bagi mereka yang sangat membutuhkan. Mulai dari memperhatikan kebutuhan makanan, kesehatan, perbaikan giji dan juga bedah rumah yang benar-benar perlu dibenahi. Kelompok ini cukup jeli dalam menangani tugas mereka, sehingga banyak umat yang kurang mampu bisa merasakan secara nyata kehadiran mereka, termasuk juga mereka yang berbeda keyakinan dengan kita. Cinta kasih memang tidak pandang bulu.
Sekolah-sekolah Katolik
Pendidikan yang memberdayakan itulah inti dari dunia pendidikan Katolik. Pendidikan adalah sarana pastoral yang luar biasa, bukan pertama-tama untuk mengkatolikkan tetapi untuk membrantas kebodohan dan menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik. Meskipun jumlah siswa dan siswi tidak banyak dalam sekolah katolik yang ada di wilayah paroki Lodalem, dedikasi untuk mencerdaskan putra-putri bangsa tidak pernah kendur. Sampai saat ini, ada tiga sekolah katolik di wilayah paroki Lodalem. Ketiganya ada di bawah naungan Yayasan Karmel, yaitu: SMPK St. Antonius Sumberpucung, SMPK St. Antonius Kalipare (Arjowilangun) dan SDK St. Yohanes Sidodadi.
Posted on 9:46 AM









