• Gua Maria Paroki Lodalem
  • Pelayanan Sakramen Ekaristi
  • Altar Paroki Lodalem
  • Perayaan Ekaristi

Gerakan Berbagi Umat Lodalem

Posted on 11:13 PM by paroki_lodalem

Markus Musito bingung. Sapinya lemas terkapar di kandang, tidak mau makan dan minum. Hutang untuk membeli sapi itu belum lunas.

Musito menghubungi Budi, tetangga yang tahu tentang seluk beluk kesehatan sapi. Budi memeriksa sapi itu, tetapi tidak menemukan penyakit yang diderita si sapi. Pastor Paroki Lodalem, Petrus Pahala Hasudungan OCarm pun datang ke kandang sapinya. Romo Pahala mengelus-elus sapi itu, dan berdoa.

Tetapi, pada akhirnya, Musito memutuskan memotong sapi itu, setelah berbincang tentang utang piutang. Kebetulan, Romo Pahala menjadi penghubung Musito dengan pemberi modal usaha ternak sapi perahnya. Romo Pahala berjanji akan membantu menegosiasikan perubahan jadwal pelunasan hutang, berdasarkan jumlah sapi yang masih ada. “Saya pasrah, anggap saja Tuhan menghendaki saya berbagi daging dengan tetangga,” tutur Musito.

Musito lahir 50 tahun lalu, di Dusun Sidodadi, Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare. Sidodadi adalah salah satu stasi dari Paroki Lodalem. Dari gereja paroki, Sidodadi berjarak kurang lebih dua kilometer. Mayoritas masyarakat Sidodadi adalah petani. Lahan yang dikerjakan adalah tanah tadah hujan.

Musito dibaptis oleh Pastor Hubertus G.J.A. Lohuis OCarm, ketika kelas lima SD. Ia tertarik menjadi Katolik, karena sosok Romo Lohuis. “Beliau orang yang luwes dalam bergaul, dan banyak membantu orang miskin,” ungkapnya.

Lulus dari SMA Sanjaya Malang, 1982, sebenarnya Musito ingin kuliah. Tetapi, tidak punya biaya. Maka, ia pun pulang kampung. Musito menikah dan dikaruniai dua anak. Saat ini, anak pertamanya studi di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang, sedangkan anak kedua kelas III STM Brantas Karangkates.

Karena pengalamannya tinggal di kota, ia pun dipercaya menjadi Ketua Mudika Paroki. Sejak itu, ia tidak lepas dari aktivitas di paroki. Ia pernah menjadi Ketua Stasi St Yohanes Sidodadi selama 13 tahun. Sekarang, Musito adalah Ketua Bidang Pelayanan Paroki Lodalem, meliputi Seksi Sosial Paroki (SSP), Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan. Ia juga Ketua Koperasi CU Abadi, Ketua Paguyuban Peternak Sapi, dan Ketua Panitia Pelaksana Baksos dalam rangka 40 tahun Paroki Lodalem.

Spirit berbagi

Musito menceritakan, bersama Romo Pahala, ia mendirikan paguyuban peternak sapi perah. Hingga kini, anggotanya masih sebatas umat Katolik. Selain untuk menambah pendapatan, paguyuban diharapkan menjadi sarana belajar kewirausahaan. Dengan terbentuknya paguyuban, para anggota bisa saling membantu. Kini, anggota paguyuban sudah ada yang mendalami bidang nutrisi ternak, juga kesehatan ternak.

“Kami tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga berbagi dalam hal nyata. Ada peternak yang tidak punya kandang, maka sapinya bisa ditempatkan di kandang anggota lainnya. Dengan paguyuban, kita bisa mengambil keputusan bersama, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh blantik (pedagang sapi), atau pembeli susu. Sayangnya, kami belum bisa menjual susu langsung ke tangan pertama, karena belum punya sarana, misalnya tester susu,” jelas Musito.

Selama ini, masyarakat Lodalem cenderung pergi mencari kerja sebagai buruh di kota, bahkan luar negeri. Jika peternakan sapi berhasil, diharapkan semakin banyak orang bergabung dalam paguyuban, dan terbantu secara ekonomi. Musito juga yakin, jika orang mau beternak, pertanian juga akan berhasil, karena limbah peternakan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sebaliknya, hasil pertanian, termasuk limbahnya, bisa diolah untuk makanan ternak. Dan, pencurian kayu di hutan akan berkurang.

Kini, jumlah sapi perah dari anggota yang tergabung dalam paguyuban sudah 59 ekor, terdiri dari 40 sapi dan 19 pedhet (anak sapi). Ada empat warga yang belum berani memulai beternak sapi, memulai dengan ternak kambing etawa. Awalnya, peran Romo Pahala dibutuhkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Namun kini, secara bersama-sama, mereka sudah berani mengambil keputusan, misalnya dalam menetapkan harga jual susu.

Jimpitan beras

Tentang aktivitas yang digelutinya, Musito mengatakan, “Jiwa saya terpanggil di sini, saya merasa selalu tergerak kalau ada yang membutuhkan pertolongan.” Ia mau terjun dalam karya-karya sosial Gereja Lodalem, awalnya karena ajakan Jumari, seorang tokoh Gereja Lodalem. Jumari mengajak mengenal Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Malang. Setelah itu, di Stasi St Yohanes Sidodadi, ia memelopori gerakan jimpitan beras.

“Kami tidak menyadari, seringkali kami membuang nasi sisa. Daripada sisa, lebih baik beras disisihkan sebagian sebelum dimasak. Cukup satu sendok. Beras itu kami kumpulkan, dan pada saat menjelang Natal dan Paskah, beras itu kami jual. Hasil penjualan kami belikan bingkisan Natal dan Paskah, dan kami bagikan kepada saudara-saudari yang membutuhkan,” demikian Musito.

Dengan gerakan ini, Musito ingin mengajak umat Katolik untuk menyadari betapa satu sendok beras itu sangat berarti. “Ketika Romo Pahala bertugas di sini, gerakan ini semakin kenceng dan dijadikan program paroki,” lanjut Musito.

Beras dan tepung singkong yang dikumpulkan dari jimpitan ini akan digunakan sebagai cadangan pangan, mengantisipasi musim paceklik. Dan, terinspirasi gerakan jimpitan ini, Paroki Lodalem juga membuat gerakan pengumpulan uang receh, dan dana partisipasi sukarela dari umat setiap akhir bulan, untuk dana operasional kegiatan paroki.

Musito mengungkapkan, masih banyak orang yang menganggap gerakan ini sebagai beban. Namun, bagi Musito, itu justru menjadi tantangan. Apalagi, dengan gerakan itu, sekarang Paroki Lodalem bisa mandiri dalam finansial, tidak lagi disubsidi keuskupan. “Dalam kekurangan, kita pun bisa ambil bagian dalam kehidupan bersama sebagai warga paroki,” demikian Musito, “Dan, saya yakin, sejimpit beras akan bermanfaat bagi mereka yang kekurangan.”


Penulis: Benny Sabdo Sumber :http://www.hidupkatolik.com/2011/05/23/gerakan-berbagi-umat-lodalem

No Response to "Gerakan Berbagi Umat Lodalem"

Leave A Reply