• Gua Maria Paroki Lodalem
  • Pelayanan Sakramen Ekaristi
  • Altar Paroki Lodalem
  • Perayaan Ekaristi

Rekreasi Pondok Kitab Suci

Asiknya Kebersamaan Di Paroki Lodalem Dalam acara Pondok Kitab Suci - Olahraga Pagi

LODALEMKU TERUSLAH BERKEMBANG DAN MAJU

LODALEMKU TERUSLAH BERKEMBANG DAN MAJU!

Ketupat dicampur jamu, kepada semua umat paroki Lodalem selamat bertemu. Si kembar pergi ke Papua, apa kabar anda semua? Adonan pati ditutupi laken, hati ini terasa kangen. Ketupat dicampuri merica dan madu, selamat merayakan HUT Pancawindu. Semoga anda kalian sehat dan bahagia selalu, amin.

A. Kenangan indah itu

Ketika Rm. Pahala, O.Carm meminta saya untuk menulis apa saja, sebagai bahan untuk merefleksikan dan merayakan HUT 40 tahun Paroki Lodalem, saya langsung menyetujui. Permintaan ini suatu kehormatan pada diri saya sendiri, karena saya pernah selama 4 tahun lebih sekian bulan, boleh mendapat perutusan menjadi Pastor Paroki Hati Tersuci Maria. Terkenal di seantero Keuskupan Malang sebagai paroki Lodalem. Jarang orang mengenal dan menyebut Paroki Hati Tersuci Maria. Ya, Lodalem lebih familier mencirikan suatu daerah alam pradesan.

Saya mempunyai kepanjangan kata Lodalem = Luhur Orangnya dan Lemah Lembut. Ciri khas orang yang hidup di pedesaan dan dekat dengan alam memang seperti itu. Berbeda dengan orang yang hidup di perkotaan penuh kebisingan, kepenatan dan tentu saja persaingan yang ketat, asing dengan alam. Kaki telanjang menginjak tanah saja dapat dihitung dengan jari untuk sehari. Itulah wajah kehidupan kota dan tentu saja pada gilirannya membentuk karakter manusianya.

Saya mengalami masa-masa indah itu di Lodalem. Saya merasakan keluhuran, kelemahlembutan juga kesederhanaan itu dari umat Katolik maupun warga umumnya. Puji Tuhan. Suatu rahmat yang sungguh saya syukuri. Bagaimanapun pengalaman itu bagian sejarah hidup saya dan membentuk diri saya. Di sini saya akui banyak orang yang menjadi guru kebijaksanaan saya baik yang kecil, tua, muda, kaya, miskin dan masih banyak lagi.

Prinsip 3 B (Berdoa, Bekerja dan Belajar), saya alami sungguh berkembang di Lodalem. Saya banyak belajar berdoa dari banyak umat yang bertekun dan semangat. Di Stasi Maria Bunda Karmel Tumpakrejo, biasa si mbok – si mbok itu sambil membawa belanjaan atau dagangannya langsung ikut misa. Saya kagum akan semangat untuk berdoa, berekaristi seperti itu. Tentu pengalaman itu belum pernah saya jumpai di kota. Di kota sibuk sedikit dan payah sedikit sudah menjadi senjata untuk tidak mengikuti Ekaristi. Saya menilai semangat ngabekti, manembah dan berekaristi luar biasa. Teladan inilah yang boleh memancar dirasakan anak-anak muda dan saya sendiri merasakan dan menikmatinya. Matur nuwun nggih?

Tentang bekerja juga sangat hebat. Umat Lodalem para pekerja keras dan ulet. Ladang terkadang tidak seberapa luas tetapi menjadi pusaka dan sumber kehidupan untuk ditekuni. Berangkat pagi pulang siang bahkan sore dari ladang. Ada yang ngarit untuk hewan peliharaan. Ada yang buruh tani. Para pegawai yang paling banyak guru, itu pun tidak terlalu banyak. Saya sangat terinspirasi dan dapat belajar kerja keras lagi ulet dari mereka semua itu. Mereka tidak mudah menuntut-mengeluh. Mereka tabah dan sabar. Sabar terhadap diri sendiri = harapan. Sabar terhadap sesama = kasih. Sabar terhadap Tuhan = iman.

B. Tantangan-tantangan

Di sini saya ingin melihat tantangan-tantangan yang perlu diperhatikan sebagai umat dan pelaku pastoral untuk dapat mengembangkan umat. Saya berangkat mulai dari umat balita sampai dengan umat yang sudah sepuh.

Anak-anak usia dini saya amati cukup banyak entah itu di pusat paroki ataupun di wilayah, stasi-stasi. Pendampingan terhadap mereka di gereja pusat sudah cukup memadai kendati selalu perlu dikembangkan terus, baik metode pendampingan, SDM maupun alat-alat peraga sebagai sarana-prasaranannya. Hanya yang masih memprihatinkan adalah pendampingan anak-anak usia dini di stasi-stasi belum maksimal. Perlu dipikirkan dan diusahakan secara terencana para pendampingnya. Bagus bila para mudika sudah dapat ikut terlibat dalam pelayanan bagi anak-anak usia dini. Pendampingan iman usia dini perlu dilakukan karena mengandalkan pendampingan iman pada keluarga saja tentu tidak cukup.

Anak-anak di atas usia dini (BIUD= Bina Iman Usia Dini), terkadang sudah terpisah, mereka tidak mau lagi bergabung dengan BIUD. Mereka mulai menjadi kelompok kecil tersendiri dalam kelompok Putra/Putri Altar (Misdinar). Saya melihat mereka juga cukup banyak dan sangat potensial sekali, untuk pelayanan dan sasaran aksi panggilan. Seingat saya saat itu, banyak anak yang masuk seminari menengah. Tentu hal itu bukan suatu kebetulan tetapi dapat dilihat sebagai buah pastoral dan pendampingan pada mereka.

Remaka dan mudika tantangannya lebih berat lagi. Apalagi di tengah iming-iming kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Berat bila mereka memang tidak disiapkan secara mental memasuki suatu jaman edan yang terus maju dan mencengkeram. Celakanya lagi, mereka tidak kuat dalam komunitasnya. Apa yang terjadi, pergaulan begitu bebas dan tahu-tahu membawa mereka melangkah terlalu jauh. Kenakalan-kenalakan remaja di luar gereja bisa dengan mudah merembet pada generasi idaman ini. Apa akibatnya? Mereka ada yang harus menikah di usia dini, ditambah menikah di luar gereja lagi. Lebih parah lagi, bila hal itu tidak dikomunikasikan pada pihak gereja. Alhasil akan menjadi hilang dari persekutuan menjadi nyata. Tidak kalah berat lagi mereka yang menjadi TKI ke luar negeri. Mereka yang muda mentalitas dan perilaku berubah drastis. Yang sudah berkeluarga alih-alih menjadi TKI untuk kesejahteraan tetapi malah banyak yang menambah persoalan. Perselingkuhan dan keluarga yang tidak terurus menjadi marak. Mereka memang harus disadarkan membangun keluarga itu tidak identik dengan membangun ekonomi saja. Maka saya senang dengan mendengar usaha pendampingan pengembangan dan pemberdayaan ekonomi umat di daerahnya sendiri.

Umat berusia dewasa tua (sepuh) menjadi pemandangan yang sangat mencolok baik di pusat maupun di stasi-stasi. Artinya gereja dipenuhi mereka semua. Tidak usah dirisaukan. Toh mereka umat Allah yang telah membuktikan kesetiaan dalam imannya. Mereka telah banyak berjasa bagi gereja. Mereka terus akan berjasa, terutama dalam kesetiaan berbakti dan berserah pada Tuhan. Mereka teladan, dalam arti yang sesungguhnya. Kita wajib melaksanakan pendapingan pastoral terus-menerus. Semoga semua umat Paroki Lodalem semakin dewasa dalam iman dan kuat persekutuannya. Ingat, lebih terhormat mantan penjahat daripada mantan Katolik. Selamat dan Berkah Dalem!

Rm A Yudhi Wiyadi OCarm

SISI ‘DALEM’ DARI PAROKI LODALEM

SISI ‘DALEM’ DARI PAROKI LODALEM
Oleh Adrianus Pristiono, O.Carm

Saya masih ingat yang dikatakan ketua Stasi Pangganglele, bapak Suwadi, saat akan mengarak saya ke Gereja Paroki dengan mobil pick-up buntut-nya, dalam rangka akan merayakan misa syukur atas tahbisan imamat saya. Waktu itu saya sedang berganti jubah di kamar depan. Bapak Suwadi dan istrinya berada di ruang tamu bersama paman-paman saya. Saya mendengar bapak Suwadi mengatakan demikian, “Rumah ini, tak berbeda dari rumah-rumah lain. Tetapi, di dalamnya ternyata penuh berkat, karena telah melahirkan seorang imam.” Kini, kata-kata beliau itu menjadi sedemikian bermakna, waktu saya diminta oleh Romo Pahala untuk menuliskan sebuah artikel HUT Paroki Lodalem, pada saat menjelang tahun ke-17 usia tahbisan saya.

Saat tinggal di Pangganglele, aktivitas saya di Paroki Lodalem cukup banyak. Sebagai mudika, anggota Legio Maria, putra altar, pembawa doa-doa di lingkungan, dan membantu kakek untuk menarik uang kematian (pangruktiloyo). Masa Rm. Yohanes Baptista Kelik Mursodo (alm) menjadi pastor Paroki Lodalem, memang merupakan masa revitalitasasi semangat Rm.Lohuis (alm). Gereja menjadi tempat yang semarak untuk menghidupi aneka kegiatan rohani. Gairah umat Sidodadi yang rela berjalan kaki untuk mengikuti Misa Suci ke gereja paroki dapat dijadikan gambaran untuk melihat situasi hidup menggereja pada waktu itu, sekaligus cermin untuk mawas diri pada saat ini. Kendati mereka kekurangan air untuk mandi, tetapi ada motivasi yang mencuat dari kedalaman hati untuk menyemarakkan perayaan Liturgi. Perlu dicatat, dan saya yakin banyak umat masih ingat, seorang bocah kecil yang mampu menjadi solis pada saat perayaan-perayaan besar gerejani, dengan suaranya yang merdu. Dia memang pandai bernyanyi.

Misa dan pendalaman iman di stasi-stasi dan kring sangat hidup, karena Rm. Kelik rajin mengunjungi umat di situ. Kelihatannya hanya soal ‘kunjungan’. Namun, kehadiran imam sungguh membawa antusiasme yang tak terukur. Yang harus kita ingat, kunjungan merupakan tradisi injili (Luk 1, 39–45), sebagaimana diteladankan oleh Bunda Maria kepada Elisabeth. Kehadiran seorang imam in persona Christi (dalam pribadi Kristus) sangat berbuah bagi pembangkitan kembali semangat menggereja. Tentu, dalam zaman yang sangat sibuk dengan banyak perkara ini (bdk.10,41), kehadiran imam mesti ditata dalam jadwal dan agenda yang rapi. Semacam rutinitas yang membentuk kebiasaan. Pada saatnya, kebiasaan akan membentuk ‘kebiasaan tetap’ atau habitus. Jika sudah menjadi habitus, maka segala yang baik, semangat yang besar, kehendak yang kuat, dan antusiasme yang tinggi akan mengalir dari dalam dan menjadi suatu karakter umat. Dalam tataran ini, umat tak perlu lagi digerakkan, tetapi gerakan itu muncul sendiri dari dalam. Kalau sudah demikian, yang perlu ditakar hanya tenaga imamnya. Itulah, gambaran paroki yang dewasa, suatu komunitas umat Allah yang sungguh-sungguh hidup.

Kelompok-kelompok kategorial, khususnya Legio Maria memiliki banyak anggota di stasi Sidodadi dan Pangganglele. Terus terang, saya belajar kedisiplinan dari Legio Maria. Wadah seperti Legio Maria dibutuhkan sebagai lahan untuk menanam benih-benih iman kristiani dalam aneka kegiatan. Umat, khususnya muda-mudi juga bisa bersemangat hidup justru dengan aneka kegiatan bervariasi yang dicanangkan paroki. Saya masih ingat, saat Bapak Mesikah menjadi ketua mudika, selain konsolidasi ke dalam (misalnya, dalam kegiatan camping rohani di gunung Kawi), juga ekspansi ke luar. Di Pangganglele, pada waktu perayaan 17 Agustus, mudika menjadi motor kegiatan bersama di desa dalam aneka kegiatan. Tema yang diambil saat itu masih saya ingat: “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Pada waktu itu, acara peringatan hari proklamasi tersebut juga dimeriahkan dengan tontonan wayang kulit semalam suntuk, yang dalangnya juga dari kalangan mudika, yaitu Ki Antonius Siswadi (alm). Mudika menjadi motor kegiatan desa semacam itu tak dapat dipisahkan dari pengaruh orang sekaliber bapak HYP.Eko Suparto atau lebih dikenal dengan bapak Punggono (alm) yang menjadi tokoh yang membanggakan bagi masyarakat sekitarnya, baik dari segi politik maupun keagamaan. Bapak Punggono-lah yang memprakarsai doa bersama di Balai Desa pada setiap kesempatan perayaan 17 Agustus.

Pastoral sekolah (SMPK Arjowilangun) sangat hidup. Bapak Misdianto yang didukung penuh oleh Romo Paroki menghidupkan koor sekolah, misa sekolah, lomba-lomba menjelang Natal, dan aneka keterlibatan murid-murid SMPK dalam Gereja Paroki, bahkan juga untuk ramai-ramai membersihkan gereja menjelang Natal. Romo Paroki rela menyisihkan waktu untuk menjadi guru agama Katolik dan bahasa Inggris di sekolah. Kekompakan para guru SMPK pun perlu mendapat apresiasi, karena berhasil menaburkan benih-benih ajaran Katolik di sekolah. Saat itu, SMPK menjadi sekolah favorit di wilayah kecamatan Kalipare.

Pertanyaannya: Apa yang hidup di balik semuanya itu? Dalam refleksi yang panjang, saya mencoba menemukan jawabannya. Dan, jawaban yang saya temukan adalah spirit yang disuntikkan oleh misionaris Belanda, khususnya Romo Lohuis. Spirit tersebut berupa totalitas pemberian diri Romo Lohuis untuk umat kesayangan yang dipercayakan kepadanya. Maka, sesudah wafat pun, tubuh-fana Romo Lohuis tetap ‘digandholi’ umat Paroki Lodalem untuk dimakamkan di samping gedung gereja Paroki Lodalem. Bagi umat Paroki Lodalem, Roh Romo Lohuis tetap menjadi gembala mereka. Inilah sisi ‘dalem’ kehidupan umat Paroki Lodalem. Setiap romo yang bertugas di Paroki Lodalem hendaknya menggunakan spirit tersebut untuk membangkitkan semangat hidup menggereja umat. Soal bentuk pastoralnya, setiap romo memiliki keunikan yang bervariasi.

Pada dasarnya, kehidupan religius umat Paroki Lodalem bagus. Namun, dengan mencermati kemajuan zaman yang menjangkau tempat-tempat tersembunyi di pedesaan, maka kegiatan pastoral Gereja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: Pertama, pengaruh kebutuhan ekonomi yang membuat banyak orang lari ke negeri tetangga sebagai TKI membawa dampak yang sangat besar. Pola pikir dan gaya hidup kebanyakan umat sudah berubah. Kehidupan menggereja tidak lagi dipandang sebagai suatu cara untuk mengisi sisi ‘dalem’ (baca: kehidupan batin) saja, tetapi juga dilihat dalam tataran untung rugi secara ekonomi. Jika menguntungkan, umat akan berduyun-duyun mengikuti kegiatan Gereja, tetapi jika tidak maka kegiatan Gereja dianggap hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Kegiatan Gereja hanya dipandang sebagai ‘barang kuno’ yang mesti segera ditinggalkan.

Kedua, kondisi sebagai minoritas di tengah mayoritas penganut agama lain. Demikian gencar promosi agama, dengan didukung oleh dana dari luar negeri yang tak terhitung, dan dikendalikan oleh orang-orang militan yang terlatih, maka kehidupan iman umat berada dalam tantangan yang tidak ringan. Tak perlu menganggap satu kelompok pun sebagai musuh, tetapi hendaknya digunakan prinsip ini: Di dunia ini hanya ada satu musuh; dan musuh itu bernama diri sendiri. Maka, keberadaan umat sebagai minoritas di tengah-tengah mayoritas hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk survive (bertahan hidup) di dalam ganasnya gelombang pengaruh yang sangat besar. Kenyataan ini sekaligus menjadi sebuah ‘seleksi alami’ tingkat ketangguhan iman masing-masing umat di tengah aneka tantangan.

Ketiga, kemajuan alat komunikasi yang sudah menjangkau ke pelosok-pelosok desa. Alat-alat komunikasi, baik hand-phone, face book, twitter, maupun aneka fasilitas internet bukanlah malapetaka yang harus dihindari. Umat diajak untuk melihat sisi ‘dalem’ yang sangat positif, yakni sebagai sarana untuk membuka jaringan antar sesama umat beriman, fasilitas untuk mewartakan Injil, dan kesempatan merangkul sebanyak mungkin teman menjadi satu kawanan dan satu gembala. Alat-alat komunikasi tersebut sungguh menjadi berkat bagi Gereja, bukan sebaliknya.

Akhirnya, dengan kesungguhan hati, saya ucapkan PROFISIAT bagi seluruh umat Paroki Lodalem, yang merayakan HUT ke-40. Iman selalu merupakan harta yang sangat berharga. Iman menjadi pegangan dan pelita setiap sisi kehidupan kita. Mari kita pelihara, sirami, dan pupuk, agar tumbuh subur dan berbuah masak bagi kehidupan sehari-hari, dimana pun, kapan pun, dalam situasi-kondisi apa pun, dan pada zaman mana pun.



Malang, 28 Desember 2010,

pada Pesta Kanak-kanak Suci, Martir.

Kisah Lodalem dan Lokasi Gereja

Sepenggal Kisah tentang Lodalem dan Lokasi Gereja

(Bpk. Misidianto)

Anggapan warga masyarakat Arjowilangun, khususnya para penatua yang ada pada saat itu (seperti Bpk. Tun Tawar dan Bpk. Kamat) mengatakan bahwa tanah lokasi berdirinya Gereja termasuk tanah keramat atau angker. Dengan pandangan yang demikian, tidak ada masyarakat yang berani mendirikan rumahnya di tempat tersebut. Mereka yakin pada saat itu bahwa lokasi Gereja ini adalah tempat pusat kerajaan lelembut atau roh halus, ada jalan raya ke arah Brongkos-Kesamben-Blitar. Dan di lokasi ini terdapat sumber air tanah yang cukup besar dan ditumbuhi pohon rindang yang cukup besar. Semua itu melengkapi anggpan tanah keramat tersebut.

Di sisi lain, Lodalem disebut pasar dukun, yaitu tempat melunasi nazar warga dan hewan yang sakit. Dapat dilihat bahwa setiap hari jumat pahing pasar lodalem ramai dengan para pedagang serta penduduk yang berdatangan untuk melunasi nazarnya tersebut. Lembu-lembu yang sakit yang telah menjadi sembuh dibawa ke pasar Lodalem dengan ditandai membeli bunga dan mengalungkan kerupuk pada leher sapi tersebut. Hal ini dilakukan sebagai tanda pelunasan nazar, setelah itu, barulah sapinya dibawa pulang kembali

Menurut sejarahnya, yang menjadi pamong dusun Lodalem sekaligus menjadi orangtua adalah Eyang Bolo dan Eyang Reso yang menjadi ahli penyembuh hewan yang sakit. Pada saat peperangan antara Adipati Blitar melawan Adipati Sengguruh banyak pasukan yang terluka dan dirawat oleh Eyang Reso dan Bolo di Lodalem (rumah yang ditempati kaum terhormat). Pada saat perang kles I dan II sekitar tahun 1948 Lodalem menjadi tempat pengungsian. Tempat latihan baris-berbaris pasukan terletak di sebelah utara Lodalem yang sekarang disebut dusun Barisan. Karena hal inilah maka Lodalem terkenal sebagai pasar dukun. Sampai sekarang, dusun Lodalem menjadi bagian dari dusun Arjowilangun yang terdiri dari 5 pedusunan yaitu Duren, Pangganglele, Lotekol, Barisan dan Lodalem sendiri. Dahulu, yang menjadi pemimpin desa adalah Ki Demang Mertowijoyo yang petilasannya masih menjadi saksi sejarah sampai saat ini. Seperti Tanah Ngampel di Lodalem, Punden di Barisan, Sanggar dan Paron di Pangganglele serta Sumbersuko di Lotekol sedangkan di Duren disebut tanah Ngandong-Gurit.

Almarhum Rm. G.J.A. Lohuis, O. Carm mencari tempat untuk mendirikan gedung gereja. Sebenarnya beliau ditawari tanah sebelah Timur pasar Lodalem seluas 1 hektar dan strategis, tetapi beliau mencari tanah di sebelah Selatan pasar Lodalem dan mendapatkan tanah yang disebut masyarakat angker tersebut. Di sinilah didirikan gereja yang berbentuk salib dan pastoran tempat romo berdiam untuk menggembalakan umat. Oleh karena para imam sebagai wakil Kristus diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat, maka masyarakat berpendapat bahwa hanya para romolah (priyayi agung) yang mampu mendiami tanah tersebut. Jika kita maknai, dapat dikatakan bahwa Lodalem menjadi pasar dukun untuk manusia dan hewan yang sakit, mencari dukun sejati yaitu Kristus sendiri yang menyembuhkan sakit rohani (cacat jiwa karena dosa) serta sakit jasmani kita. Lewat sakramen-sakramen gereja, cacat dosa manusia disembuhkan. Karya penyembuhan jasmani dan rohani ini didukung dengan hadirnya Balai Pengobatan Panti Rahayu

Kita pantas bersyukur kepada Bapa yang Mahakasih karena Lodalem menjadi pusat penggembalaan umat dan menjadi paroki Maria Annunciata sejak 21 juli 1971 sampai sekarang dan Romo G.J.A. Lohuis O. Carm tetap menyertai umatnya sampai kebangkitan badan pada akhir zaman. Secara jasmani dan rohani ini bisa dirasakan umat dengan kehadiran makam beliau di samping gereja paroki.

Semoga paguyuban umat beriman paroki Maria Annunciata Lodalem terus berkembang menjadi umat beriman yang militan, mandiri, dan berdaya guna. Amin



SEPENGGAL KISAH ROMO G.J.A. LOHUIS O. CARM

Beliau adalah sosok imam karmelit misionaris yang sangat rajin membina dan melayani umat serta rajin berdoa khusuk sehingga semua tamu diharap sabar menunggu selesainya beliau berdoa. Sikap kebapaan, persaudaraan, serta kepemimpinannya tampak nyata dalam penggembalaan umat maupun pelayanan masyarakat.



A. Bidang Penggembalaan Umat

Secara rohani umat dilayani dengan pelajaran agama, rekoleksi dan ekaristi kudus yang terjadwal secara teratur. Untuk memudahkan pelayanan tersebut umat dibagi dalam beberapa kelompok mulai dari Kaliombo Timur, Kaliombo Barat (Umbulsari), Kalitelo, Tumpakrejo, Sumberpucung, Pangganglele, Barisan Utara dan Selatan, Sidodadi, Kedungwaru dan Lotekol. Para guru katolik dan katekis melayani umat lewat Legio Maria. Mereka bertugas mengunjugi umat dan mengajar agama para calon baptis. Hasilnya tampak dalam pembaptisan massal sampai ratusan orang, seperti di Kedungwaru dan Tumpakrejo. Kita bersyukur karena Allah memanggil calon-calon baptis saat itu. Jumlah umat yang cukup besar didirikan kapel, seperti di Tumpakrejo yang pembangunannya bersamaan dengan Gereja Salib di Lodalem yang kemudian menjadi pusat paroki.



B. Bidang Pendidikan

Beliau sangat memperhatikan generasi muda masa depan gereja dengan mendirikan sekolah formal yaitu SDK Sidodadi, SMPK Arjowilangun dan SMPK Sumberpucung di bawah naungan Yayasan Karmel Keuskupan Malang. Beliau sendiri aktif mengajar di sekolah dengan dibantu seorang katekis keuskupan yang ditugaskan di Paroki Lodalem. Dari beberapa murid ini, ada yang menjadi imam, suster dan juga guru. (contohnya, Romo Adrianus Pristiono, O.Carm dan Suster Helena, P.Karm).


C. Bidang Ekonomi Umat

Situasi dan kondisi umat di era tahun 1960-an sangat memprihatinkan. Secara ekonomi setiap tahun pasti mengalami masa paceklik, sehingga umat kekurangan bahan makanan. Maka beliau mendirikan kumpulan petani pancasila yang bertugas memberi penyuluhan kepada umat cara bertani yang benar mulai dari pengolahan tanah, benih, pola tanam dan pemupukan yang baik. Beliau juga mendirikan lumbung paceklik di kelompok-kelompok umat. Setiap panen umat diharuskan menyisihkan sedikit hasil panen dan dikumpulkan bersama serta disimpan sebagai persiapan musim paceklik, sehingga pada musim paceklik tersebut umat dapat memanfaatkannya dengan sistem meminjan dan harus mengembalikan pada musim panen berikutnya. Dalam hal pakaian pun, beliau mengusahakan pakaian bekas yang jumlahnya besar dan dibagikan kepada umat secara gratis sebab harga pakaian saat itu tidak terjangkau oleh umat.



D. Bidang Kesehatan

Setiap kali bertugas melayani umat beliau mengajak tenaga kesehatan dari Suster Misericordia yang selalu siap obat dan tenaganya. Khusus di stasi Arjosari-Ajowilangun, beliau bekerjasama dengan RS. Panti Waluya menyediakan tenaga perawat yang selalu siap melayani umat. Dalam perkembangannya setelah berdirinya paroki, didirikan rumah kesehatan permanen sebagai balai pengobatan yang disebut Panti rahayu Lodalem sebagai cabang RS. Panti Waluya Malang. Balai Pengobatan tersebut secara resmi diberkati oleh Bpk. Uskup Mgr. FX. Hadisumarto O. Carm, Uskup Malang pada tahun 1975.



E. Persiapan Paroki Baru

Ketika Romo G.J.A. Lohuis O. Carm akan cuti ke Netherland (Belanda) selama 10 bulan sambil berobat untuk memulihkan kesehatannya, beliau berpesan kepada katekis agar mempersiapkan umat untuk menyambut berdirinya paroki sendiri, Lodalem akan dijadikan pusat paroki. Beliau juga mengatakan akan menjadi pastor paroki pertama sepulang dari cutinya. Sebagai persiapan, terutama gedung gereja yang berbentuk salib segera harus diselesaikan pembangunannya. Dengan semangat kerja bakti, umat secara bersama-sama menyelesaikan bangunan gereja tersebut, tepatnya menjelang Natal pada tahun 1970. Rm. Pius Budiwijoyo, Ocso sebagai pastor pembantu saat itu sudah dapat mempersembahkan misa di gereja yang baru diselesaikan tersebut, pada malam Natal dan Natal pagi pada tahun 1970.



Pada tanggal 27 Juni 1971 gedung gereja diberkati oleh Uskup Malang Mgr. A.E.J. Albers O. Carm. Pemotongan pita dilakukan oleh Bpk. Camat Kalipare yaitu Bpk. Wigyo Koyo Wardoyo. Dengan demikian umat telah dapat mengikuti ekaristi kudus setiap hari minggu di Rumah Tuhan.


Tepat pada tanggal 21 Juli 1971, misa kudus pelantikan alm. Romo G.J.A. Lohuis O. Carm sebagai pastor paroki pertama dipimpin oleh Uskup Malang Mgr. A.E.J. Albers O. Carm dihadapan seluruh umat. Demikianlah stasi Arjosari-Arjowilangun menjadi Paroki sendiri dengan pelindung St. Maria Annunciata yang meliputi kecamatan kalipare dan Sumberpucung.




DARI MASA KE MASA PAROKI MARIA ANNUNCIATA


DARI MASA KE MASA
PAROKI MARIA ANNUNCIATA
BERSAMA PELAYANAN GEMBALA PAROKI
Para Pastor yang Pernah Bertugas di Paroki Lodalem


a.      Rm. Pius Budiwijoyo OCSO, sebagai pastor pembantu Paroki Purworejo, dari tahun 1969–1971. Beliau ditempatkan untuk melayani umat sewaktu masih belum mejadi paroki. Pada masa beliau, cukup banyak umat dibaptis di rumah-rumah. Karena situasi administrasi yang masih belum lengkap, ternyata banyak umat yang telah dibaptis tidak tercatat dalam administrasi gereja. Namun ini tidak mengurangi pelayanan terhadap umat.
b.      Pastor Paroki I,  Rm. G.J.A. Lohuis O. Carm (1971–1973).

Beliaulah yang membangun batu penjuru Paroki Maria Annunciata. Semangat beliau melayani umat dan masyarakat, terutama dalam membela hak asasi manusia pada masa peberontakan PKI, membuat Rm. Lohuis diterima di hati semua orang. Karena itu, tidak heran ketika jenasahnya ditempatkan di belakang gedung Gereja, semua masyarakat mendukung hal tersebut. Wafat pada  Rabu Wage, tanggal 8 Agustus 1973. Sepeninggal Rm. Lohuis O. Carm, pejabat sementara pastor paroki dipegang Rm. Bernardus Sudarmojo O. Carm selama 1 bulan pada tahun 1973.


c.       Pastor Paroki IV, Rm. Y.B. Kelik Mursodo O. Carm (1979–1982).
Kegiatan yang menonjol pada saat itu adalah:
1)      Kerasulan awam lewat Legio Maria Yunior
2)      Peningkatan Liturgi umat dengan penyediaan musik liturgi

d.      Pastor Paroki V, Rm. Y.B. Yohanes Sosrowardoyo O. Carm (1982-1986).
Kegiatan yang menonjol pada saat itu adalah:
1)      Rehab gedung gereja, pastoran dan pemagaran
2)      Membangun Gedung Serba Guna “Ora et Labora”, sekaligus sebagai kapel di stasi Sumberpucung, yang diberkati oleh Bapak uskup Mgr. Hadisumarto O.Carm didampingi pastor paroki Rm. Sosrowardoyo O. Carm.

e.      Pastor Paroki VI, Rm. F.X. Sardjono O. Carm (1986-1988).
Kegiatan yang menonjol pada saat itu adalah:
1)      Mempercantik pastoran dan menambah kamar tidur supir
2)      Mengatur administrasi gereja
3)      Melanjutkan pembangunan kapel Pangganglele, Kedungwaru dan Kalitelo

f.        Pastor Paroki VII, Rm. Bernardus Sudarmojo O. Carm (1988-1991).
Kegiatan yang menonjol pada saat itu adalah:
1)      Merehab gedung gereja lama yang sebelumnya berbentuk salib menjadi bentuk joglo (inkulturasi Jawa yang diarsiteki Bapak Paulus dari Kepanjen. Gedung gereja baru ini diberkati oleh Bapak uskup Mgr. H.Y.S. Pandoyoputro O. Carm.
2)      Setelah pemberkatan diadakan hiburan Wayang Purwo dengan dalang Ki Manteb Sudarsono.
3)      Pada masa ini pula pelindung paroki berubah menjadi  Hati Tersuci Santa Maria.

g.      Pastor Paroki VIII, Rm. S. Soepratignyo O. Carm (1991-1993).
Kegiatan yang menonjol pada saat itu adalah:
1)      Gerakan katekese umat
2)      Proyek penghijauan produktif (jeruk, mangga, duren)
3)      Penitipan pohon jati untuk dipelihara umat sebagai cadangan sewaktu-waktu bila terjadi pemugaran gereja atau pastoran.

h.      Pastor Paroki IX, Rm. Bernard Teguh Kusdarwanto O. Carm (1993–1997), yang merangkap sebagai pastor paroki Kepanjen
Beberapa hal perlu dicatat pada masa ini adalah:
1)      Pastor pembantu (1994–1996)     : Rm. Theodorus S. Sihombing O. Carm
2)      Pastor Pembantu (1996–1997)     : Rm. Eligius Ipong O. Carm.

k.       Pastor paroki X, Rm. Eligius Ipong Suponodi O. Carm (1997-1999).
Selanjutnya,  pada tahun 1997, Rm. Ipong diangkat menjadi Pastor Paroki Santa Maria Tak Bernoda Kepanjen, merangkap Pastor Paroki Lodalem.
1)      Selama tahun 1998, karena ketiadaan romo pembantu, Paroki Lodalem dilayani bergantian oleh Rm. Harjono O. Carm dan Rm. Hudi Pr
2)      Tahun 1998–Juli 1999, Fr. Antonius Wahyu Anggona O. Carm menjalani masa pastoral di Paroki Lodalem.
3)      September 1999, Rm. Leonardus Djawa O. Carm menjadi Pastor Pembantu Lodalem.

l.        Pastor Paroki XI, Rm. Kasmono Purwoadisasmito O. Carm (1999-2002).
Beliau merangkap Pastor Paroki Kepanjen dan Lodalem. Pada waktu itu, Fr. Nerius Rusmiadi O. Carm melaksanakan tahun pastoral di Paroki Lodalem

m.    Pastor Paroki XII, Rm. Thomas Aquino Gheta O. Carm (2002-2004).
Beliau merangkap Pastor Paroki Kepanjen. Praktisnya, pelayanan pastoral dilaksanakan oleh pastor pembantu yang sering tiggal di pastoran. Pada masa ini, pastor pembantu yang melayani Lodalem adalah:
1)      Rm. Leo Jawa O. Carm, yang kemudian pindah ke Mauloo Flores
2)      Kemudian terjadi serah terima antara Rm. Leo Jawa O. Carm dengan Rm. Thomas Aquino Gheta O. Carm bersama dengan Rm. Andreas Yudhi Wiyadi O. Carm pada tanggal 8 Desember 2002
3)      Fr. Yanuar O. Carm menjalani masa frater pastoral di Lodalem

n.      Pastor Paroki XIII, Rm. Andreas Yudhi Wiyadi O. Carm, terhitung mulai tanggal 13 Oktober 2004.
1)      Fr. Sulis O. Carm menjalani masa pastoral di Lodalem. Kemudian digantikan oleh Fr. Robi O. Carm.
2)      Agustus 2005, Fr. Ig. Nugroho A.S. O. Carm menjalani masa pastoral di Lodalem
3)      Tahun 2006, Fr. Petrus Joko berpastoral di Paroki Lodalem
4)      Tahun 2004, ditetapkan oleh Keuskupan Malang sebagai tahun Pemuda
5)      Tahun 2005, ditetapkan oleh Keuskupan Malang sebagai Tahun Keluarga.
6)      Tahun 2006, ditetapkan oleh Keuskupan Malang sebagai tahun Pendidikan

o.      Pastor Paroki XIV, terhitung tanggal 08 Agustus 2007 diadakan serah terima tugas pastor paroki. Rm. A.H. Purnomo O. Carm diangkat menjadi pastor moderator dengan pastor pelaksana paroki Rm. Petrus Pahala H. O. Carm
1)      Pada tahun ini, Juli 2007, Fr. Albertus Antonius Gouijn Leonardo O. Carm menjalani masa pastoral di Paroki Lodalem
2)      Tahun 2008 ditetapkan Keusukupan sebagai tahun Sumber Daya Manusia
3)      Tahun 2008 ditetapkan Keusukupan Malang sebagai tahun Keberpihakan Gereja pada Kaum Miskin.
4)      Bulan Juli 2009, Fr. Wilhelmus Sotda O. Carm berpastoral di Lodalem